Ekonomi Sirkular Membuka Peluang Kerja Baru dari Pengelolaan Sampah

Navaswara.com – Setiap pagi di kawasan Cilincing, Jakarta Utara, Rina Marlina sibuk memilah botol plastik bekas yang terkumpul dari warga sekitar. Aktivitas itu kini menjadi bagian dari rutinitasnya sebagai koordinator bank sampah. Dari pengelolaan sekitar satu ton limbah per bulan, Rina memperoleh penghasilan hingga tiga juta rupiah sekaligus membuka peluang kerja bagi ibu-ibu di lingkungannya.

“Awalnya saya ibu rumah tangga. Sekarang saya bisa bantu ekonomi keluarga sambil ikut menjaga lingkungan,” ujarnya.

Pengalaman Rina menggambarkan bagaimana ekonomi sirkular mulai bergerak di tingkat akar rumput. Berbeda dari pola konsumsi lama yang berujung pada penumpukan sampah, ekonomi sirkular mendorong pemanfaatan ulang material agar tetap bernilai. Limbah tidak lagi dipandang sebagai akhir siklus, melainkan sebagai sumber ekonomi yang berkelanjutan.

Skala peluangnya tidak kecil. Data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mencatat produksi sampah nasional mencapai 68 juta ton per tahun. Bank Dunia memproyeksikan ekonomi sirkular berpotensi membuka hingga 4,4 juta lapangan kerja baru di Indonesia pada 2030. Pekerjaannya beragam, mulai dari pengelola bank sampah, teknisi daur ulang, hingga pelaku usaha kreatif berbasis material bekas.

Di sektor industri, pendekatan serupa mulai diterapkan. Di Gresik, Jawa Timur, PT Semen Indonesia menjalankan program co processing dengan memanfaatkan sampah plastik sebagai bahan bakar alternatif. Program ini mengurangi sekitar 100 ribu ton limbah plastik per tahun sekaligus melibatkan ratusan pekerja lokal dalam proses pengumpulan dan pengolahan.

Industri fesyen juga menunjukkan arah yang sama. Sejumlah merek lokal memanfaatkan limbah tekstil dan material daur ulang sebagai bahan utama produk. Selain mengurangi beban lingkungan, model ini membuka ruang kerja bagi pengrajin perempuan di berbagai daerah. Produk yang dihasilkan tetap relevan dengan selera pasar sekaligus membawa nilai sosial.

“Pekerjaan hijau tidak selalu identik dengan teknologi tinggi. Yang dibutuhkan adalah perubahan cara pandang bahwa setiap peran, sekecil apa pun, punya dampak,” ujar Nadia Prameswari, aktivis lingkungan dan penggerak komunitas bank sampah.

Pemerintah mendorong transisi ini melalui Peta Jalan Ekonomi Sirkular Indonesia 2024 sampai 2045, dengan target peningkatan tingkat daur ulang dan pengurangan sampah laut. Di saat yang sama, minat generasi muda terhadap bidang lingkungan terus tumbuh. Banyak mahasiswa memilih studi yang berkaitan dengan keberlanjutan karena melihat masa depan kerja yang lebih relevan dengan tantangan zaman.

Bagi Rina dan banyak perempuan lain, ekonomi sirkular bukan wacana besar. Ia hadir dalam pilihan harian yang konsisten, sekaligus membuka jalan bagi penghidupan yang lebih stabil dan bertanggung jawab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *