Satu Langkah Kecil dengan Dampak Besar dari Langkah Membumi Ecoground

Navaswara.com – Banjir bandang di tengah musim kemarau. Panas terik yang terasa menyengat bahkan di pagi hari. Cuaca ekstrem yang sulit diprediksi. Ini bukan lagi berita dari negara seberang, tapi kenyataan yang kita rasakan setiap hari. Krisis iklim kini hadir di depan mata, mengubah cara kita memandang pilihan-pilihan sederhana—mulai dari memilih botol minum, cara berolahraga, hingga keputusan berbelanja di akhir pekan.

Percakapan soal krisis iklim kini terasa makin dekat dengan kehidupan sehari-hari. Dampak bencana alam yang kian sering membuat banyak orang mulai memikirkan kembali pilihan-pilihan kecil yang selama ini dianggap sepele, dari cara berolahraga, berbelanja, hingga berinteraksi di ruang publik.

Kesadaran itulah yang menjadi latar hadirnya Impact Report Langkah Membumi Ecoground 2025, program keberlanjutan tahunan di bawah payung Blibli Tiket Action. Memasuki tahun keempat, Langkah Membumi tampil dengan pendekatan yang lebih aplikatif dan selaras dengan gaya hidup masyarakat urban, khususnya generasi muda yang semakin kritis terhadap isu lingkungan.

Digelar selama dua hari pada November lalu, Langkah Membumi Ecoground mempertemukan olahraga, komunitas, dan praktik keberlanjutan dalam satu ruang publik. Impact Report ini merangkum pembelajaran dari penyelenggaraan acara tersebut, sekaligus menunjukkan bagaimana ruang publik dapat berfungsi sebagai pemicu perubahan perilaku, bukan hanya tempat berkumpul.

“Langkah Membumi Ecoground dirancang agar keberlanjutan terasa relevan dengan keseharian. Pengunjung bisa merasakan langsung bagaimana pilihan sederhana dapat berdampak,” ujar Lisa Widodo, COO & Co-Founder Blibli. Ia menambahkan, perancangan ruang publik yang bertanggung jawab berperan penting dalam membentuk kebiasaan baru masyarakat.

Prinsip tersebut diterapkan secara menyeluruh, mulai dari pemilihan material, pengelolaan limbah, hingga penyediaan fasilitas publik. Bersama Life Cycle Indonesia, evaluasi dampak dilakukan berbasis standar ISO untuk aspek lingkungan dan sosial. Selama acara, sebanyak 187 kilogram sampah berhasil dikelola agar tidak menjadi limbah tak terkelola, sementara 12 water refill station menyediakan 741 liter air minum dan mencegah penggunaan 1.235 botol plastik sekali pakai.

Total emisi acara tercatat sebesar 94,1 kg CO₂e dan ditekan melalui pemanfaatan infrastruktur eksisting serta praktik repurposing material. Kolaborasi lintas komunitas juga menghasilkan donasi 110.500 pohon mangrove yang diproyeksikan mampu menyerap hingga 3.635,5 ton CO₂ dalam delapan tahun ke depan.

Dampak lain terlihat dari respons pengunjung. Mayoritas peserta berasal dari generasi muda, dengan lebih dari separuh menyatakan niat untuk mengubah perilaku keberlanjutan setelah mengikuti acara. “Ruang seperti ini penting karena tidak hanya mengedukasi, tetapi menunjukkan praktik nyata pengelolaan acara yang bertanggung jawab,” kata Diaz Hendropriyono, Wakil Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia.

Langkah Membumi juga berkembang sebagai ruang temu lintas sektor. Brand, komunitas olahraga, UMKM, universitas, hingga penggiat lingkungan bertemu dalam satu ekosistem kolaboratif. Inisiatif Langkah Membumi Goes to University bahkan telah menjangkau lebih dari 800 mahasiswa di tiga kampus, menanamkan kesadaran sejak dini.

“Kalau satu kebiasaan kecil dilakukan banyak orang, dampaknya bisa terasa luas,” ujar Cinta Laura Kiehl, Changemaker Partner Langkah Membumi.

Dirilis di awal 2026, Impact Report ini hadir saat banyak orang menyusun resolusi baru. Langkah Membumi mengajak publik memulainya dari keputusan sehari-hari yang lebih sadar, sekaligus menunjukkan bahwa perubahan dapat bergerak lebih kuat ketika dilakukan bersama.