Navaswara.com – Generasi muda semakin akrab dengan makanan instan dan layanan pesan antar seiring ritme hidup urban yang kian cepat, terutama di kalangan mahasiswa. Kepraktisan kerap dipilih karena keterbatasan waktu, padatnya aktivitas akademik, serta minimnya keterampilan memasak yang membuat dapur terasa jauh dari keseharian. Aktivitas memasak pun sering dipersepsikan rumit dan kurang relevan dengan gaya hidup modern.
Kondisi tersebut menjadi perhatian Fery Farhati saat hadir dalam diskusi dan peluncuran kampanye Public Relations bertajuk #KembaliKeDapur di Universitas Bakrie, Sabtu (20/12). Di hadapan mahasiswa Ilmu Komunikasi, Fery sekaligus memperkenalkan buku resep Sedianya Udah. “Rumah itu bukan sekadar tempat pulang. Di sanalah rasa aman dan nilai keluarga dibangun, salah satunya lewat dapur,” ujar Fery.
Fery menilai banyak keluarga kehilangan jejak rasa karena resep orang tua tidak pernah dicatat dan akhirnya menghilang seiring waktu. Ia mendorong generasi muda untuk mulai menyimpan resep-resep tersebut sebagai legacy keluarga, karena di dalamnya tersimpan cerita, kebiasaan, dan cara orang tua menunjukkan kasih. “Mencatat resep bukan hanya urusan memasak, tetapi cara menjaga ingatan agar nilai keluarga tetap hidup dan bisa diwariskan,” tegasnya.
Bagi Fery, kehadiran buku tersebut tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi bagian dari ajakan membaca ulang makna rumah. Ia melihat kampus sebagai ruang strategis untuk memulai percakapan tentang keluarga, agar tidak terputus dari pengalaman dasar seperti memasak dan berbagi waktu di dapur.

Melalui Sedianya Udah, Fery membagikan kisah tentang ibundanya di Kuningan, Jawa Barat, yang membentuk cara pandangnya tentang rumah dan keluarga. Ia mengenang sebuah rumah putih yang tidak hanya berdiri sebagai bangunan fisik, tetapi hidup melalui kebiasaan memasak yang dilakukan dengan perhatian dan ketekunan. “Ibu saya menanamkan cinta dan rasa hangat tidak lewat kecepatan atau ukuran, tetapi lewat masakan yang dibuat dengan hati,” ujar Fery.
Menurutnya, warisan terpenting yang bisa ditinggalkan orang tua bukanlah materi, melainkan memori tentang kebersamaan. Ia mencontohkan bagaimana sang ibu hingga kini masih memasak makanan kesukaan cucu-cucunya sebagai bentuk kehadiran emosional. “Ada usaha, waktu, dan perhatian di situ. Itu yang dirasakan anak,” katanya.
Fery juga menyinggung realitas keluarga masa kini yang kerap tergerus kesibukan digital. Gawai membuat anggota keluarga berada di ruang yang sama, namun terpisah secara emosional. “Jangan sampai kita sebagai orang tua terlupakan oleh anak-anak kita,” ucapnya.
Lewat Sedianya Udah, Fery menegaskan bahwa esensi memasak tidak terletak pada hasil akhir, melainkan proses yang dijalani bersama. “Nikmatnya itu muncul dari kebersamaan. Lontong di mana-mana sama, tapi jadi berkesan karena kita membuatnya bareng-bareng. Ada investasi waktu, tenaga, dan pikiran,” tuturnya.
Ia menambahkan, masakan rumahan memiliki nilai personal yang kuat. Ayam goreng atau nasi panas dengan sambal bisa terasa istimewa ketika dihadirkan dalam suasana hangat dan penuh keterlibatan.
Bagi Fery, kembali ke dapur adalah cara menguatkan nilai keluarga agar generasi muda memiliki pegangan saat berada di luar rumah. “Kita menghangatkan keluarga supaya punya nilai yang jelas dan tidak mudah terombang-ambing,” pungkasnya.
