Navaswara.com — Cerita rakyat selalu punya daya tarik yang tak pernah pudar. Dari kisah para dewa, raja, hingga rakyat jelata, setiap cerita menyimpan nilai moral dan pandangan hidup yang membentuk cara berpikir suatu bangsa. Di tengah derasnya arus hiburan modern, kisah-kisah lama ini justru menawarkan sesuatu yang lebih dalam, yakni cermin atas kemanusiaan yang tak berubah oleh waktu.
Bagi Deddy Corbuzier, cerita rakyat bukan hanya kisah masa lalu, melainkan cerminan cara berpikir dan nilai budaya yang tak pernah usang. Ia menilai, pesan moral dan kegelisahan yang melahirkan cerita rakyat tetap relevan hingga kini.
“Cerita rakyat itu dibuat atas keresahan, dan keresahan itu tidak lekang oleh waktu. Anak durhaka, rasa dendam, semua masih ada sampai sekarang,” ujarnya saat diwawancarai di Jakarta, Rabu (22/10). Menurutnya, kisah-kisah lama seperti Sangkuriang hingga legenda Nyi Roro Kidul seharusnya bisa tetap hidup di tengah masyarakat modern.
Deddy menilai, persoalan terbesar justru terletak pada hilangnya tradisi mendidik lewat cerita. “Sayangnya cerita rakyat kita tidak dilestarikan. Anak-anak zaman sekarang banyak yang tidak tahu lagi kisah itu seperti apa,” katanya. Ia berpendapat, pelestarian bisa dilakukan dengan cara yang lebih dekat dengan generasi muda, misalnya lewat film. “Kalau dibuat film dan dimodernisasi bisa menjadi bagus. Negara lain bisa melakukannya, kenapa kita tidak?” tambahnya.
Dalam pandangannya, setiap tokoh dalam cerita rakyat memiliki fungsi penting, termasuk tokoh jahat sekalipun. “Kita tidak bisa bicara tokoh yang tidak untuk dicontoh, karena tanpa tokoh antagonis, ceritanya tidak akan hidup,” ujarnya. Ia menilai karakter-karakter negatif justru perlu dipelajari, bukan dihindari. “Jangan dicontoh tapi dipelajari,” katanya.
Modernisasi cerita rakyat bukan berarti mengubah maknanya, menurut Deddy, melainkan menemukan cara baru untuk menyampaikannya. Ia percaya, dengan sentuhan teknologi dan kreativitas, kisah-kisah lama bisa kembali menggugah imajinasi generasi kini. “Kalau dikemas dengan cara yang keren, orang akan tertarik lagi. Cerita rakyat bisa jadi pop culture, bisa hidup di film, animasi, bahkan game,” ujarnya. Baginya, yang penting bukan seberapa tua kisah itu, tapi bagaimana kisah tersebut bisa terus berbicara kepada zaman yang baru.
Ketika ditanya siapa tokoh yang ingin ia perankan jika diberi pilihan, Deddy menyebut nama Wirosableng. “Dia seorang pendekar yang lugu, hanya tahu membela kebenaran dengan keluguannya,” ujarnya sambil tertawa.

Menurut Deddy, cerita rakyat dan legenda Nusantara menyimpan kekuatan moral dan identitas bangsa yang perlu dihidupkan kembali. Ia percaya, selama manusia masih bergulat dengan nilai dan nurani, cerita rakyat akan selalu punya tempat di setiap zaman.
Sebagai bagian dari gerakan menghidupkan kembali kisah Nusantara, Nawaswara Indonesia bekerja sama dengan Yayasan Inklusi Pelita Bangsa dan Ayo Dongeng Indonesia menggelar Festival Storytelling Cerita Rakyat Suara Nusantara 2025 bertema “Menghidupkan Legenda, Menginspirasi Masa Depan.”
Kegiatan ini terbuka untuk seluruh pelajar dan guru se-DKI Jakarta, dengan pendaftaran dan unggahan video dibuka hingga 5 November 2025 secara gratis. Peserta berkesempatan tampil di babak semifinal dan final pada 15–16 November 2025, serta memperebutkan berbagai kategori penghargaan menarik seperti Best Costume, Best Digital Storytelling, dan Best Supporting Performance.
Informasi lebih lanjut dapat diakses melalui instagram suaranusantara.fest atau laman linktr.ee/suaranusantara2025
View this post on Instagram
