Navaswara.com — Ancaman penipuan siber dan penyebaran hoaks yang menggunakan teknologi kecerdasan buatan (AI) kian meresahkan masyarakat. Merespons kondisi ini, platform investasi kripto PT Pintu Kemana Saja (PINTU) berkolaborasi dengan Universitas Paramadina menggelar edukasi literasi digital bagi warga Bekasi.
Program bertajuk “Cek Sebelum Cekcok” ini berlangsung di Trimedia Green Park, Bintara, Bekasi, Jawa Barat. Sebanyak 150 warga yang didominasi kalangan ibu rumah tangga hadir untuk memahami cara menangkal deepfake dan tautan phishing.
Chief Marketing Officer (CMO) PINTU, Timothius Martin, menyatakan edukasi ini merupakan wujud tanggung jawab perusahaan agar masyarakat tidak gagap menghadapi ancaman siber.
“Kami berharap program ini dapat menjadi inspirasi serta landasan bagi masyarakat yang lebih cerdas digital,” ujar Timothius.
Urgensi edukasi ini sejalan dengan tingginya penetrasi internet di Kota Patriot. Anggota DPRD Kota Bekasi, Ir. Hj. Chairun Nisa, M.M., menyebut terdapat 2,2 juta pengguna internet dari total 2,8 juta penduduk Bekasi. Menurutnya, tingginya durasi penggunaan media sosial membuat warga rentan menjadi korban penipuan.
Tingkat kerentanan ini diperkuat oleh data dari Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi). Ketua Tim Pembinaan Komunikasi Publik Daerah Komdigi, Dimas Aditya Nugraha, membeberkan bahwa mayoritas masyarakat masih bimbang saat menerima informasi bohong.
“Mayoritas orang Indonesia ketika dapat informasi hoaks, sekitar 7% sangat yakin, 25% yakin, dan 45% bimbang. Jadi sangat penting bagi kita melakukan saring sebelum sharing,” ungkap Dimas.
Komdigi sendiri menyoroti kerugian masyarakat akibat penipuan berbasis digital yang angkanya ditaksir mencapai Rp 7,5 triliun.
Untuk membentengi keluarga dari manipulasi informasi, Dekan Fakultas Falsafah dan Peradaban Universitas Paramadina, Dr. Rini Sudarmanti, memberikan formula verifikasi mandiri bagi para ibu.
“Masyarakat harus curiga jika ada judul yang lebay, foto atau video hasil rekayasa AI. Gunakan formula: tarik napas, cek faktanya, cari dari sumber kredibel, lalu luruskan secara santun,” pesan Rini.
Senior Product Marketing Specialist PINTU, Reyner Jonathan, menambahkan langkah teknis agar terhindar dari scam finansial. Ia mewanti-wanti warga agar tidak mudah panik, selalu memverifikasi nomor telepon institusi, dan menghindari klik tautan sembarangan.
Meski modus kejahatan siber bermunculan, Reyner menegaskan masyarakat tidak perlu phobia terhadap AI. Apalagi, survei PwC Indonesia (2025) mencatat 69% pekerja Indonesia terbantu produktivitasnya berkat AI.
“AI ini hanya alat. Bagi ibu-ibu bisa bertanya resep masakan, komparasi produk, hingga membuat caption jualan dan menghitung pembukuan. AI harus dimanfaatkan untuk hal-hal yang positif,” tutup Reyner.
