Navaswara.com — Pemandangan anak yang menyingkirkan brokoli dari piring mungkin sudah akrab bagi banyak orang tua. Berbagai cara dicoba, mulai dari menyamarkan sayuran dalam makanan hingga membujuk anak agar mau mencicipi satu suapan. Namun, ketika anak terus menolak makanan tertentu, orang tua kerap bertanya-tanya apakah kebiasaan tersebut berkaitan dengan pola asuh atau justru bagian dari proses tumbuh kembang.
Dalam psikologi perkembangan, kondisi tersebut dikenal sebagai food neophobia, yaitu kecenderungan menolak atau merasa enggan mencoba makanan baru. Perilaku ini umumnya mulai terlihat pada masa kanak-kanak dan mencapai puncaknya pada usia dua hingga enam tahun. Secara biologis, kewaspadaan terhadap makanan yang belum dikenal diduga berkaitan dengan mekanisme perlindungan diri ketika anak mulai aktif menjelajahi lingkungan.
Sayuran hijau sering menjadi salah satu makanan yang paling sulit diterima karena sebagian memiliki rasa pahit. Sementara itu, anak secara alami cenderung menyukai rasa manis dan asin. Faktor genetik pun turut berperan. Ulasan Psychology Today atas penelitian kembar menyebut sekitar dua pertiga kecenderungan neofobia makanan berkaitan dengan faktor keturunan.
Ketika Penolakan Makanan Memengaruhi Asupan Gizi
Dampaknya terlihat pada variasi asupan anak. Penelitian terhadap 330 anak berusia 24 bulan di Australia menemukan bahwa anak dengan tingkat neofobia lebih tinggi mengonsumsi jenis sayur dan buah yang lebih sedikit. Temuan serupa terlihat dalam penelitian di Inggris terhadap anak usia empat hingga lima tahun. Konsumsi buah, sayur, dan protein cenderung berkurang, sementara asupan makanan berpati dan camilan relatif tidak terganggu.
Meski demikian, faktor biologis bukan satu-satunya penentu. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menjelaskan bahwa picky eater masih dapat menjadi bagian dari fase normal tumbuh kembang. Namun, perilaku tersebut perlu dibedakan dari selective eater yang berisiko mengalami kekurangan zat gizi tertentu. IDAI juga mengidentifikasi praktik pemberian makan yang tidak tepat sebagai salah satu penyebab tersering kesulitan makan pada anak.
Paparan Berulang dan Teladan Orang Tua Membantu Anak
Karena itu, memaksa anak menghabiskan makanan justru bukan solusi. Orang tua disarankan membangun rutinitas makan yang teratur, menciptakan suasana menyenangkan, membatasi waktu makan maksimal 30 menit, serta menawarkan kembali makanan yang ditolak tanpa ancaman maupun kemarahan.
Kabar baiknya, kesukaan terhadap makanan dapat dilatih. Sebuah eksperimen pada anak prasekolah usia dua hingga enam tahun menunjukkan bahwa penawaran satu jenis sayuran setiap hari selama dua minggu membuat anak mengonsumsi 64 persen lebih banyak sayuran tersebut saat pengujian berikutnya. Penelitian lain juga menemukan bahwa paparan berulang hingga delapan kali dapat meningkatkan kesukaan anak terhadap seledri.
Keteladanan orang tua turut berpengaruh. Penelitian terhadap balita di Australia menemukan adanya keselarasan antara selera makan anak dan ibunya. Artinya, kebiasaan makan di rumah ikut membentuk preferensi anak sejak dini.
Tantangannya, kebiasaan makan keluarga Indonesia sendiri masih perlu diperbaiki. Survei Kesehatan Indonesia 2023 mencatat 67,5 persen penduduk berusia lima tahun ke atas hanya mengonsumsi satu hingga dua porsi sayur dan buah per hari. Anak membutuhkan contoh nyata, bukan sekadar anjuran.
Lantas, bagaimana jika si kecil tegas menolak brokoli di usia tiga tahun? Don’t panic! Ini bukan tanda kegagalan Anda sebagai orang tua. Kuncinya ada pada kesabaran, repeated exposure (memperkenalkan makanan secara berkala), serta atmosfer makan keluarga yang menyenangkan.
Namun, jika drama susah makan ini berlarut-larut sampai memengaruhi kurva pertumbuhan dan grafik berat badannya, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis anak.

