Navaswara.com — Selama ini, polycystic ovary syndrome (PCOS) kerap dikaitkan dengan gangguan menstruasi dan masalah kesuburan. Padahal, kondisi tersebut memiliki dampak yang lebih luas terhadap kesehatan perempuan. Pergeseran istilah menjadi polyendocrine metabolic ovarian syndrome (PMOS) pun membawa pemahaman baru bahwa gangguan ini berkaitan erat dengan sistem hormon dan metabolisme tubuh secara keseluruhan.
Pemahaman tersebut penting, terutama bagi perempuan muda yang mungkin belum memiliki rencana untuk hamil. Sebab, dampak PMOS tidak selalu baru terasa ketika seseorang ingin memiliki anak. Gangguan ini juga dapat meningkatkan risiko diabetes tipe 2, penyakit jantung, serta berbagai masalah kesehatan metabolik apabila tidak terdeteksi dan ditangani sejak dini.
Di Indonesia, PMOS diperkirakan dialami oleh sekitar 4 hingga 10 persen perempuan usia subur. Sejumlah studi klinis juga mencatat angka kejadian sekitar 6,5 hingga 9,1 persen pada kelompok remaja dan perempuan dewasa muda. Angka tersebut memperlihatkan pentingnya meningkatkan kesadaran mengenai kondisi yang sering kali tidak disadari sejak awal.
Gejala yang Kerap Dianggap Gangguan Menstruasi Biasa
Siklus menstruasi yang tidak teratur sering menjadi salah satu tanda awal PMOS. Namun, sebagian perempuan menganggap perubahan tersebut sebagai hal biasa, terutama ketika tidak disertai keluhan lain yang terasa mengganggu.
Padahal, gangguan ovulasi akibat PMOS dapat memengaruhi peluang kehamilan. Di Indonesia, kondisi ini diperkirakan berkontribusi terhadap 8 hingga 10 persen kasus infertilitas perempuan dan menjadi penyebab sekitar 75 persen kasus infertilitas anovulatori, yakni ketidaksuburan akibat kegagalan ovarium melepaskan sel telur.
Dr. Wei-Wei Wee-Stekly, Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi di Gleneagles Hospital, Singapura, mengingatkan bahwa banyak perempuan muda hidup dengan kondisi tersebut selama bertahun-tahun tanpa diagnosis.
“Perubahan sudut pandang dari PCOS ke PMOS sangatlah penting, karena menegaskan bahwa gangguan tersebut bukan persoalan pada indung telur semata, melainkan sebuah komplikasi gangguan metabolik serta endokrin,” ujar Dr. Wei-Wei Wee-Stekly, Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi di Gleneagles Hospital, Singapura.
Menurutnya, deteksi dini diperlukan untuk menjaga peluang kesuburan sekaligus mengurangi risiko gangguan metabolik dalam jangka panjang.
Perawatan Disesuaikan dengan Kondisi Setiap Perempuan
Penanganan PMOS membutuhkan pemeriksaan menyeluruh karena gejala dan kondisi kesehatan setiap pasien bisa berbeda. Dokter dapat melakukan pemeriksaan profil hormon, mengevaluasi kondisi metabolik, serta menggunakan ultrasonografi (USG) panggul untuk memperoleh gambaran kesehatan ovarium.
Dr. Ma Li, Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi di Mount Elizabeth Hospitals, menjelaskan bahwa pilihan terapi dapat berupa kontrasepsi oral untuk membantu mengatur siklus menstruasi, obat anti-androgen, hingga obat yang meningkatkan sensitivitas insulin. Bagi perempuan yang sedang merencanakan kehamilan, dokter dapat mempertimbangkan prosedur induksi ovulasi.
Pada pasien yang tidak lagi merespons pengobatan, tersedia tindakan laparoscopic ovarian drilling, yakni prosedur bedah minimal invasif untuk membantu memulihkan fungsi ovulasi.
Mengenali PMOS sejak dini menjadi langkah penting bagi perempuan untuk lebih memahami kondisi tubuhnya. Menstruasi yang terus tidak teratur, misalnya, layak diperiksakan dan tidak sebaiknya dibiarkan tanpa evaluasi medis. Pemeriksaan sejak usia muda dapat membantu menentukan perawatan yang sesuai, menjaga kesehatan reproduksi, serta mengurangi risiko penyakit metabolik di kemudian hari.

