Navaswara.com – Banyak perempuan mulai menyadari perubahan pada tubuh ketika memasuki usia 40-an. Kulit terasa lebih kering, rambut mulai menipis, suasana hati berubah, hingga tubuh lebih cepat lelah. Sayangnya, keluhan tersebut kerap dianggap sebagai bagian dari penuaan biasa.
Padahal, perubahan itu dapat menjadi tanda perimenopause, yaitu masa transisi sebelum menopause yang dipengaruhi perubahan hormon. Fase ini dapat berlangsung selama beberapa tahun dan memengaruhi kondisi fisik maupun emosional perempuan. Dengan mengenali gejalanya sejak dini, perempuan dapat memperoleh penanganan yang sesuai sebelum keluhan mengganggu kualitas hidup.
CEO Primaya Hospital Group Leona A. Karnali, CFA, FRM, mengatakan perempuan membutuhkan pendampingan kesehatan yang menyeluruh karena perubahan selama perimenopause tidak hanya berkaitan dengan hormon, tetapi juga berdampak pada kualitas hidup.
Menurut Leona, perimenopause merupakan fase alami yang dapat dikelola melalui edukasi dan pendampingan medis yang tepat. “Yang terpenting, perempuan tidak perlu merasa khawatir secara berlebihan hingga melakukan over treatment, tetapi memahami kapan harus berobat dan mendapatkan pertolongan agar tidak terlambat. Melalui pendekatan multidisiplin, kami ingin membantu perempuan memahami kapan perlu berkonsultasi dengan tenaga medis agar tetap sehat, percaya diri, dan produktif di setiap fase kehidupannya,” ujar Leona dalam seminar yang diselenggarakan Primaya Hospital.
Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Konsultan dr. Komang Ardi Wahyuningsih, M.Biomed., Sp.KKLP., Subsp. FOMC, mengatakan perubahan hormon pada masa perimenopause berdampak langsung pada kesehatan kulit dan rambut.
“Penurunan estrogen menyebabkan produksi kolagen dan elastin berkurang sehingga kulit menjadi lebih tipis, kering, dan kehilangan elastisitas,” ujar Komang.
Komang menjelaskan, sekitar 30 persen kolagen kulit dapat hilang dalam lima tahun pertama setelah menopause. Setelah itu, jumlahnya terus berkurang sekitar dua persen setiap tahun. Penurunan hormon juga membuat fase pertumbuhan rambut menjadi lebih pendek sehingga rambut tampak lebih tipis.
Meski demikian, kondisi tersebut dapat dikelola melalui perawatan yang disesuaikan dengan kebutuhan setiap perempuan.
President Director Martha Tilaar SPA Wulan Maharani Tilaar mengajak perempuan memandang perimenopause sebagai fase untuk merawat diri secara menyeluruh agar tetap sehat, bahagia, dan percaya diri.
Seminar tersebut juga membahas pentingnya aktivitas fisik selama masa perimenopause. Dokter Spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi dr. Gustiawaty Army, Sp.KFR, mengatakan sekitar 72,9 persen perempuan menopause mengalami gangguan dasar panggul yang dapat memengaruhi kualitas hidup.
Menurut Gustiawaty, aktivitas fisik yang dilakukan secara rutin dan bertahap berperan penting dalam menjaga kekuatan otot, mempertahankan kesehatan tulang, sekaligus membantu mengurangi berbagai gejala perimenopause.
Selain perubahan fisik, perempuan juga dapat mengalami perubahan emosi. Kondisi ini sering muncul bersamaan dengan berbagai tanggung jawab, mulai dari pekerjaan, anak yang mulai mandiri, orang tua yang memasuki usia lanjut, hingga perubahan pada tubuh dan hubungan sosial.
Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa dr. Leonita Ariesti Putri, Sp.KJ., MSc., mengatakan perubahan suasana hati pada masa perimenopause merupakan respons alami akibat perubahan hormon yang sering terjadi bersamaan dengan berbagai tekanan hidup.
“Perubahan suasana hati saat perimenopause adalah respons alami akibat fluktuasi hormon dan tekanan hidup, bukan sekadar sensitif tanpa sebab. Kelola stres dengan metode STOP (stop sejenak, tarik napas, observasi, pilih respons) dan jangan ragu berkonsultasi dengan profesional jika mulai mengganggu aktivitas. Ini adalah fase kehidupan yang normal, bukan penyakit,” kata Leonita.
Seminar tersebut juga menghadirkan pengalaman langsung dari perempuan yang pernah menjalani perimenopause. CEO & Co-Founder Yoona Women Susanna Angraini mengatakan keterbukaan dalam membicarakan pengalaman tersebut penting agar lebih banyak perempuan memahami perubahan yang terjadi pada tubuhnya.
“Perimenopause mengajarkan saya bahwa perubahan seperti tubuh yang lebih sensitif, stamina yang menurun, hingga leaky bladder adalah hal yang nyata dialami banyak perempuan. Sayangnya, isu perimenopause dan menstruasi masih sering dianggap tabu. Karena itu, kita perlu mulai membuka percakapan agar perempuan tidak merasa sendirian dan lebih memahami tubuhnya,” ujar Susanna.
Menutup sesi diskusi, COO & Co-Founder Blibli Lisa Widodo mengatakan perimenopause tidak mengurangi kemampuan perempuan untuk tetap berkarya. Menurut Lisa, memahami perubahan yang terjadi pada tubuh membantu perempuan beradaptasi tanpa terus menyalahkan diri sendiri.
“Dengan tubuh yang sehat, pikiran yang jernih, serta dukungan keluarga dan lingkungan kerja, perempuan tetap dapat berkarya, memimpin, dan berkembang di setiap fase kehidupannya,” tutup Lisa.
Lewat diskusi yang menghadirkan dokter dari berbagai bidang, seminar ini mengajak perempuan lebih mengenal perimenopause sebagai fase kehidupan yang wajar. Dengan pemahaman yang tepat, perubahan pada tubuh tidak perlu dihadapi sendiri atau disikapi dengan rasa khawatir berlebihan.

