SDN Cileungsi 02 Dipugar, Jejak Bangunan Abad ke-19 Dijaga di Tengah Perubahan

Navaswara.com — Suara palu dan pahat bersahutan dari bangunan tua di kompleks SD Negeri 2 Cileungsi, Kabupaten Bogor. Beberapa pekerja membongkar lantai, melepaskan kusen pintu dan jendela, sementara sebagian lainnya menata kembali material bangunan yang masih dapat dipertahankan. Di sudut ruangan, sejumlah keping tegel lama dibungkus rapi. Benda-benda itu tidak ikut dibuang, melainkan disimpan sebagai bagian dari jejak sejarah bangunan.

Belakangan, sekolah tersebut sempat menjadi perhatian publik setelah kegiatan belajar mengajar dipindahkan ke gedung baru yang berada tepat di sebelah bangunan lama. Pemindahan itu memunculkan berbagai spekulasi mengenai nasib bangunan sekolah yang telah berdiri sejak era kolonial.

Pemerintah Kabupaten Bogor kemudian menjelaskan bahwa pengosongan dilakukan untuk memugar bangunan yang diperkirakan dibangun pada abad ke-19. SD Negeri 2 Cileungsi telah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya tingkat Kabupaten Bogor melalui Keputusan Bupati Bogor Nomor 432/Kpts/Per-UU/2022, sehingga proses perbaikannya dilakukan dengan mempertahankan bentuk dan karakter arsitektur aslinya.

Bupati Bogor Rudy Susmanto mengatakan, pemindahan siswa merupakan bagian dari upaya menyelamatkan bangunan bersejarah tersebut sebelum kondisinya semakin berubah akibat berbagai renovasi yang dilakukan selama bertahun-tahun.

“Salah satu yang sempat ramai baru-baru ini adalah SD Negeri 2 Cileungsi. Kami memindahkan siswa-siswinya ke bangunan sekolah baru di sebelahnya, lalu bangunan yang lama kami kosongkan untuk dipugar. Sekolah tersebut dibangun pada tahun 1800-an. Kami ingin mengembalikan fungsi dan bentuk aslinya agar masyarakat tidak lupa sejarah Bogor,” ujar Rudy dalam wawancara eksklusif bersama Navaswara.

Menurut Rudy, salah satu bagian bangunan yang mengalami perubahan cukup mencolok adalah lantai. Sebagian tegel lama telah diganti dengan keramik putih modern yang dinilai tidak lagi mencerminkan karakter bangunan bersejarah tersebut.

“Kemarin sempat ramai karena sebagian lantainya sudah telanjur diganti keramik putih modern. Saya minta keramik putih itu dibongkar total. Kami cari tegel ubin yang ukurannya sama persis dengan aslinya. Tegel ubin lama yang masih tersisa dibungkus rapi untuk dipajang di dalam ruangan,” katanya.

Pemugaran tidak berhenti pada bagian lantai. Pemerintah daerah juga mengganti kusen pintu dan jendela yang sebelumnya menggunakan material modern dengan desain yang dibuat menyerupai bentuk awal bangunan.

“Kusen-kusen modern yang sudah hancur juga diganti ulang dengan pesanan desain awal. Kami tidak ada niatan sedikit pun untuk mengubah peruntukannya menjadi hal lain, kami murni mengembalikan sejarah,” ujar Rudy.

Proses pemugaran dimulai pada akhir Mei 2026. Guru SD Negeri 2 Cileungsi Iim Hermawan mengatakan, pekerjaan diawali dengan pembongkaran plafon sebelum dilanjutkan dengan perbaikan struktur bangunan secara bertahap.

“Pembangunannya itu kalau enggak salah tanggal 20 Mei, dengan pembongkaran plafon, kemudian sampai sekarang sudah jadi seperti ini,” kata Iim dilansir dari situs Metro Bogor.

Untuk mempertahankan karakter bangunan, material baru disesuaikan dengan elemen lama yang masih ditemukan di lokasi. Tegel berukuran 20 x 20 sentimeter dipilih karena memiliki ukuran yang sama dengan ubin asli yang masih tersisa.

“Ubinnya pakai tegel ukuran 20 x 20, disamakan dengan ubin yang ada di ruangan sana, bekas ruangan dulu,” ujar Iim.

Bangunan yang sebelumnya difungsikan sebagai sekolah itu rencananya akan dimanfaatkan sebagai kantor singgah Bupati Bogor. Namun, menurut pemerintah daerah, perubahan fungsi tersebut tidak akan menghilangkan nilai sejarah bangunan karena seluruh proses pemugaran dilakukan dengan pendekatan konservasi yang mempertahankan bentuk asli bangunan.

Pemugaran SD Negeri 2 Cileungsi menjadi bagian dari upaya yang lebih luas dalam pelestarian warisan budaya di Kabupaten Bogor. Pemerintah daerah juga melakukan penataan sejumlah ruang publik dengan mengadopsi unsur arsitektur Sunda, di antaranya kawasan alun-alun, pendopo, dan Kawedanan Jasinga.

“Beberapa pembangunan infrastruktur hari ini, seperti alun-alun, pendopo, hingga Kawedanan Jasinga, semuanya kami kembalikan menggunakan arsitektur Sunda. Ini adalah hak masyarakat Kabupaten Bogor untuk tetap mengenal identitas budayanya,” kata Rudy.

Selain itu, di kawasan pusat pemerintahan juga telah dibangun Gapura Tritangtu di Buana di sisi Masjid Baitul Faizin. Pemerintah Kabupaten Bogor juga menyiapkan ruang penyimpanan bagi replika kereta kencana Kerajaan Pajajaran yang sebelumnya diperkenalkan kepada masyarakat melalui Helaran.

Upaya pelestarian itu menunjukkan bahwa konservasi bangunan bersejarah tidak berhenti pada mempertahankan fisik bangunan semata. Tantangan berikutnya adalah memastikan ruang-ruang tersebut tetap hidup dan memiliki fungsi di tengah perkembangan kota.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *