Sate Ponorogo, Sang Penjaga Rasa dari Bumi Reog

Navaswara – Di banyak kota, sate menjadi makanan yang digemari lantaran cepat disajikan, hangat, dan akrab di lidah. Namun di Ponorogo, sate bukan hanya santapan malam hari, melainkan cerita, tradisi, dan jejak panjang sebuah kota yang tumbuh bersama aroma arang dan bumbu kacang. Dan kini, aromanya itu merambat jauh hingga ke panggung internasional.

Baru-baru ini, situs kuliner global TasteAtlas merilis daftar “50 Best Chicken Dishes”, yang memuat hidangan ayam terbaik dari berbagai belahan dunia. Lima menu dari Indonesia masuk daftar itu, mulai dari ayam goreng, nasi goreng ayam, ayam penyet, opor ayam, dan Sate Ponorogo, di posisi 27. Di antara semua hidangan tersebut, sate Ponorogo-lah yang paling menyedot perhatian.

Sate Ponorogo tidak lahir dari dapur restoran besar, melainkan dari tangan seorang warga desa. Melansir Makanan Tradisional Indonesia Seri 1 karya Eni Harmayani dkk., sate ini dipelopori Bagong dari Desa Purbosuman pada 1970-an. Ia memilih mengiris daging ayam melintang, bukan dadu, menghasilkan potongan pipih memanjang yang kemudian menjadi ciri khasnya.

Daging yang telah dimarinasi lama itu kemudian dibakar di atas arang, sering kali arang kelapa, menghasilkan aroma pekat yang menjadi penanda bagi siapa pun yang melewati warung-warung kecil di Ponorogo. Saus kacang yang kental, gurih, dengan sentuhan manis dan pedas ringan menjadi pasangan setia sate ini.

Pada 1990-an, popularitas sate Ponorogo mulai merambat keluar kota. Dari Ponorogo ke barat, melewati Jawa Tengah hingga Banten, para perantau membawa rasa kampung halaman melalui tusukan-tusukan sate.

Tak Setenar Sate Madura, Tapi Bertahan

Dalam peta kuliner nasional, nama sate Ponorogo sering berada di antara bayang-bayang dua raksasa: sate Madura dan sate Padang. Namun justru di ruang yang lebih senyap itulah ia bertahan, tanpa gempita, tanpa klaim berlebihan, tapi dengan rasa yang konsisten.

TasteAtlas kemudian mengangkat sate Ponorogo ke dalam daftar hidangan ayam terlezat dunia. Bagi sebagian besar orang Ponorogo, ini bukan tentang peringkat, melainkan pengakuan terhadap kerja panjang para penjaga rasa di kota mereka.

Di Ponorogo, ada tempat-tempat yang namanya sudah menjadi legenda: Gang Sate, dan warung-warung seperti milik H. Tukri Sobikun. Di tempat-tempat seperti inilah warisan Bagong dirawat, dimulai dari pemilihan ayam yang pas, irisan daging memanjang yang khas, hingga proses marinasi yang tidak terburu-buru.

Para pedagang ini bukan hanya berjualan; mereka menjaga identitas rasa sebuah kota.

Pengakuan dari TasteAtlas bukan hanya sebuah prestasi, tetapi juga peluang. Pemerintah daerah disebut dapat memanfaatkan momentum ini untuk menguatkan wajah Ponorogo sebagai destinasi kuliner. Sate Ponorogo kini sudah berada di peta kuliner dunia, sejajar dengan hidangan ayam dari belahan dunia lain.

Namun bagi warga setempat, penghargaan itu mungkin hanya bonus. Yang terpenting tetap sama: menjaga keaslian rasa yang telah bertahan lebih dari setengah abad.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *