Navaswara.com – Abrasi pantai yang terus menggerus kawasan pesisir tak hanya menghilangkan daratan, tetapi juga mengancam tambak budidaya yang menjadi sumber penghidupan masyarakat. Untuk menjawab persoalan tersebut, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Universitas Pancasakti Tegal mengembangkan pendekatan yang memadukan rehabilitasi mangrove dengan teknologi berbasis Internet of Things (IoT).
Peneliti Pusat Riset Teknologi Hidrodinamika (PRTH) BRIN Alin Fithor mengatakan, pendekatan itu diterapkan di kawasan pesisir Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, yang terdampak abrasi. Berdasarkan hasil penelitian, rehabilitasi mangrove yang dipadukan dengan sistem pemantauan kualitas air berbasis IoT mampu meningkatkan ketahanan tambak sekaligus menjaga produktivitas budidaya.
“Keberadaan mangrove dapat memperbaiki kualitas habitat sehingga produktivitas perikanan berlangsung lebih berkelanjutan. Namun, menjaga mangrove saja belum cukup karena tambak di wilayah pesisir masih menghadapi perubahan kualitas air akibat pasang surut, intrusi air laut, dan perubahan cuaca yang sulit diprediksi,” kata Alin, belum lama ini.
Menurut Alin, tim peneliti mengembangkan sistem pemantauan kualitas air yang memanfaatkan sensor berbasis IoT, teknologi LoRa, dan Arduino Weather Station. Sistem tersebut mengukur parameter penting seperti suhu dan tingkat keasaman (pH) air, lalu mengirimkan data secara real time kepada pengguna.
Dengan begitu, petambak dapat segera mengambil langkah apabila terjadi perubahan kualitas air yang berpotensi memengaruhi hasil budidaya.
Hasil pengujian menunjukkan sistem mampu memantau kualitas air dengan kisaran pH 7,96–8,31 dan suhu 29,25–29,87 derajat Celsius. Rentang tersebut masih tergolong ideal untuk pertumbuhan udang vaname.
Alin menjelaskan, pemanfaatan teknologi IoT tak hanya membantu meningkatkan efisiensi budidaya, tetapi juga berfungsi sebagai sistem peringatan dini terhadap perubahan kondisi lingkungan di kawasan pesisir yang rentan abrasi.
“Pemantauan yang dilakukan secara berkelanjutan membantu mengurangi risiko kematian udang akibat perubahan kualitas air sekaligus meningkatkan produktivitas tambak,” ujarnya.
Ia menambahkan, penanganan abrasi tidak cukup hanya mengandalkan pembangunan infrastruktur fisik. Menurutnya, rehabilitasi ekosistem mangrove perlu dibarengi dengan penerapan teknologi agar masyarakat pesisir lebih mampu beradaptasi terhadap perubahan lingkungan.
“Pendekatan ini menunjukkan bagaimana riset mampu menghadirkan solusi yang saling melengkapi. Rehabilitasi mangrove menjaga keseimbangan ekosistem pesisir, sementara teknologi IoT memastikan aktivitas budidaya tetap produktif melalui pengelolaan kualitas air yang lebih presisi,” tutur Alin.
Temuan tersebut dinilai membuka peluang penerapan model serupa di berbagai wilayah pesisir Indonesia yang menghadapi abrasi dan dampak perubahan iklim. Melalui kombinasi rehabilitasi mangrove dan teknologi digital, kawasan pesisir yang terdampak abrasi diharapkan dapat dipulihkan sekaligus tetap memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.

