Temuan Arkeologi di Situs Bongal Ungkap Jejak Jalur Dagang Nusantara Abad ke-7

Navaswara.com – Situs Bongal di Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, terus menarik perhatian para arkeolog. Berbagai temuan di kawasan pesisir barat Sumatera itu menunjukkan Bongal bukan sekadar permukiman kuno, tetapi diduga menjadi bagian penting dari jaringan perdagangan internasional pada abad ke-7 hingga ke-10 Masehi.

Selain koin emas dari era Kekhalifahan Umayyah dan Abbasiyah serta keramik Dinasti Tang dari China, penelitian juga menemukan artefak Hindu, bagian kapal kuno, hingga komoditas rempah yang memperkuat dugaan adanya aktivitas perdagangan lintas kawasan.

Arkeolog senior dari Pusat Riset Arkeologi Lingkungan, Maritim, dan Budaya Berkelanjutan BRIN, Dr. Ery Soedewo, mengungkapkan temuan-temuan tersebut dalam wawancara di kanal YouTube KEMENBUD dan Indonesiana TV yang dirangkum Humas BRIN, beberapa waktu lalu.

Ery mengatakan, penelusuran di Bongal bermula pada 2001 saat timnya melakukan survei arkeologi di wilayah Kota Sibolga dan Kabupaten Tapanuli Tengah. Saat itu, masyarakat Desa Jago-jago memberi informasi mengenai keberadaan sebuah arca di kawasan perbukitan.

“Pada 2001 itu kami melakukan survei arkeologis di wilayah administrasi Kotamadya Sibolga dan Kabupaten Tapanuli Tengah. Waktu melakukan survei itu kami dapat informasi dari masyarakat di Desa Jago-jago bahwa di suatu perbukitan mereka pernah melihat secara langsung ada arca,” kata Ery.

Saat meninjau lokasi, tim menemukan sebuah Arca Ganesa yang kondisinya sudah tidak utuh. Bagian kepala dan sebagian sandaran arca telah hilang, namun atribut ikonografinya masih dapat dikenali.

“Sayang sekali waktu kami temukan pada 2001 memang sudah tidak utuh. Namun kami bisa mengidentifikasi sebagai Arca Dewa Ganesa karena masih memiliki atribut-atribut ikonografisnya,” ujarnya.

Arca tersebut, sambung Ery, diperkirakan berasal dari abad ke-9 hingga ke-10 Masehi. Berdasarkan informasi warga, awalnya terdapat dua arca di lokasi tersebut. Namun saat tim datang, hanya satu yang ditemukan dan kondisinya sudah pecah. Diduga arca itu dirusak karena beredar anggapan terdapat emas atau berlian di dalamnya.

Penelitian kemudian berlanjut pada 2019 setelah masyarakat yang menambang emas di kawasan Bongal menemukan berbagai benda purbakala. Temuan itu meliputi pecahan keramik, gerabah, manik-manik, hingga koin kuno.

Di antara berbagai artefak tersebut, Ery menyoroti keberadaan koin dari masa Dinasti Abbasiyah dan Dinasti Umayyah.

“Salah satu jenis koinnya seperti koin masa Dinasti Abbasiyah, berarti sekitar abad ke-9. Ada juga koin dari masa Dinasti Umayyah yang menunjukkan situs Bongal ternyata lebih tua dari perkiraan awal,” jelasnya.

Usia situs itu diperkuat dengan ditemukannya keramik Dinasti Tang dari China yang berasal dari abad ke-7 hingga ke-10 Masehi, serta keramik berlapis glasir hijau dari Persia pada periode yang sama.

Tak hanya itu, tim juga menemukan papan-papan kayu yang belakangan diketahui merupakan bagian dari kapal kuno.

“Setelah kami cek, itu adalah papan perahu kuno. Salah satunya memiliki tulisan beraksara Pallawa Grantha yang secara paleografis berasal dari sekitar abad ke-7,” kata Ery.

Untuk memastikan usianya, sampel kayu dikirim ke laboratorium di Amerika Serikat untuk penanggalan. Hasil analisis menunjukkan kayu tersebut berasal dari abad ke-7 hingga ke-8 Masehi, sejalan dengan usia artefak lain yang ditemukan di lokasi.

Selain papan kapal, penelitian juga menemukan kemudi kapal sepanjang sekitar 4,5 meter serta kemudi lain berukuran sekitar 2,5 meter yang ditemukan pada 2021. Temuan tersebut memperkuat dugaan bahwa Bongal pernah menjadi pelabuhan atau kawasan maritim yang aktif.

Ekskavasi juga menghasilkan berbagai ecofact atau tinggalan hayati, seperti gading, biji hanjeli, hingga biji pala.

Menurut Ery, temuan pala menjadi salah satu bukti penting adanya jaringan perdagangan antarpulau pada masa itu. Sebab, pala merupakan komoditas yang identik berasal dari Kepulauan Maluku.

“Hal yang menarik karena pala identik dengan produk dari Kepulauan Maluku. Namun pala ditemukan juga di Bongal. Berarti ada jalur perniagaan yang menghubungkan kawasan timur Nusantara dengan kawasan barat Nusantara pada abad ke-7 sampai ke-10 Masehi,” ujarnya.

Ery menambahkan, Bongal juga memiliki potensi sumber daya alam yang menjadi daya tarik perdagangan pada masa lampau. Selain dikenal sebagai wilayah yang mengandung emas atau Suwarnadwipa (Pulau Emas), kawasan tersebut juga menghasilkan berbagai jenis getah resin bernilai ekonomi.

“Dari hasil identifikasi, komoditas utama Bongal antara lain kapur barus, kemenyan, dan getah damar,” pungkasnya.