Yayuk Basuki Bicara Makna Kemerdekaan bagi Atlet Muda Indonesia

Navaswara.com – Nama Yayuk Basuki tak bisa dilepaskan dari perjalanan panjang tenis Indonesia. Kariernya membawanya berkompetisi di berbagai panggung dunia, sebelum kemudian ia memilih jalur baru setelah pensiun sebagai petenis profesional. Lewat Tennis Academy, Yayuk kini kembali menaruh perhatian pada lapangan, kali ini dengan mendampingi dan membina petenis muda.

Pada peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, makna kemerdekaan dapat dilihat dari banyak sisi, termasuk perjalanan atlet yang berjuang membawa nama Indonesia. Bagi Yayuk, kemerdekaan dalam olahraga berkaitan erat dengan kemandirian atlet sekaligus kemampuan organisasi membiayai pembinaan secara mandiri.

“Buat saya, merdeka adalah bahwa you stand on your own. Asosiasi pun stand on your own, sehingga bisa men-support menjadikan seorang atlet,” ungkapnya.

Dari sisi profesionalisme, Yayuk menilai atlet semestinya memiliki ruang untuk menentukan masa depannya sendiri tanpa terikat program yang membatasi pilihan. Atlet juga perlu memiliki kesempatan mencari pendanaan secara mandiri agar dapat mengembangkan karier sesuai kebutuhan dan target prestasinya.

Namun, persoalan tidak berhenti pada atlet. Yayuk melihat sejumlah asosiasi cabang olahraga masih menghadapi persoalan pendanaan, terutama ketika pembinaan atlet masih bergantung pada dukungan pemerintah. Kondisi tersebut membuat makna kemerdekaan bagi organisasi olahraga belum sepenuhnya terwujud.

Menurut Yayuk, pembinaan atlet semestinya dibangun dengan tanggung jawab yang jelas sejak awal. Keluarga yang mengeluarkan biaya, pelatih yang mendampingi, maupun asosiasi yang membina memiliki peran dalam perjalanan seorang atlet. Dukungan terhadap atlet tidak semestinya baru hadir setelah prestasi berhasil diraih.

“Jangan sampai ada lagi cerita keluarga yang membiayai dari awal, lalu begitu atletnya jadi, baru diklaim oleh negara. Buat saya, makna merdeka adalah asosiasi itu bisa berdiri sendiri, mendukung atletnya,” kata Yayuk.

Pandangan tersebut tidak lepas dari pengalamannya sebagai mantan Ketua Umum Indonesian Olympian Association. Selama menjabat, Yayuk memilih mencari sumber pendanaan sendiri untuk menjalankan kegiatan organisasi, bahkan ketika dukungan tersebut harus berasal dari kantong pribadinya.

Tahun ini, Yayuk menyerahkan posisi Ketua Umum Indonesian Olympian Association kepada Taufik Hidayat. Pengalaman tersebut memperkuat pandangannya bahwa kemandirian perlu dibangun dalam pengelolaan olahraga, termasuk melalui kemampuan asosiasi mendukung atlet sejak proses pembinaan hingga mencapai prestasi.

Keterlibatan Yayuk dalam tenis kini mengambil bentuk yang berbeda. Sebagai Ambassador Singapore Tennis Open, yang tahun ini naik ke level WTA 500, ia turut melihat potensi turnamen tersebut bersama Singapore Tennis Invitational Cup dalam membuka jalur kompetisi yang lebih luas bagi pemain muda. Ajang invitational itu dapat menjadi pilihan bagi petenis yang belum memiliki peringkat untuk berlaga di turnamen utama.

Menurutnya, keberadaan kedua turnamen dapat memberi motivasi bagi pemain muda untuk mengejar level kompetisi yang lebih tinggi. Dari perjalanan panjang itu, perhatian Yayuk kini kembali mengerucut pada sesuatu yang pernah ia mulai lebih dari satu dekade lalu. Akademi tenis menjadi ruang yang lebih dekat dengan lapangan, tempat ia dapat kembali mendampingi anak-anak dan meneruskan pengetahuan yang diperolehnya sepanjang karier.

Kali ini, Yayuk ingin melihat sejauh mana pengetahuan tersebut dapat tumbuh melalui generasi baru. Baginya, perjalanan seorang atlet tidak berhenti ketika pertandingan terakhir selesai. Pengalaman yang telah dikumpulkan justru dapat menjadi bekal untuk membuka jalan bagi pemain muda yang sedang mencari pijakan menuju panggung yang lebih besar.