Navaswara.com – Warna-warna cerah, goresan spontan, dan imajinasi yang bebas memenuhi ruang pamer Bentara Budaya Jakarta. Di antara karya para seniman ternama, terpajang pula lukisan anak-anak yang merekam dunia mereka dengan cara sederhana namun jujur. Suasana hangat itu menjadi gambaran bagaimana seni membuka ruang dialog antara generasi, sekaligus menjadi sarana anak mengenal dirinya dan lingkungan di sekitarnya.
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Fajar Riza Ul Haq secara resmi membuka Pameran Lukisan Karya Bentara Budaya bertajuk “Anak Dalam Lintasan Waktu” di Jakarta, Kamis (11/6/2026). Pameran tersebut menghadirkan karya para seniman tentang anak serta karya anak-anak yang menggambarkan dunia mereka dari sudut pandang dan imajinasi sendiri.
Dalam sambutannya, Wamen Fajar menegaskan bahwa pengenalan seni sejak usia dini merupakan bagian penting dari proses pendidikan yang utuh. Menurutnya, seni tidak hanya mengembangkan kreativitas, tetapi juga membentuk pengalaman estetis yang membantu anak memahami makna kehidupan.
“Kami memandang bahwa ketika anak-anak sejak usia dini dikenalkan dengan dunia seni, termasuk seni lukis, itu merupakan bagian dari upaya mengasah pengalaman estetis anak-anak kita. Dengan cara itu, kita dapat mengajarkan kepada anak-anak bagaimana sesungguhnya menjadi manusia,” ujar Fajar.
Ia menjelaskan, pendidikan tidak semata berorientasi pada penguatan aspek akademik, tetapi juga perlu memberi ruang bagi tumbuhnya imajinasi, kreativitas, dan ekspresi diri. Karena itu, kegiatan seni dinilai memiliki peran penting dalam membentuk perkembangan anak secara menyeluruh.
Menurutnya, pameran yang mempertemukan karya seniman dewasa tentang anak dengan karya anak-anak tentang dunianya sendiri menciptakan ruang kebudayaan yang mendukung pertumbuhan intelektual sekaligus emosional.
“Saya memandang proses seni semacam ini, yang dibudayakan kepada anak sejak dini merupakan bagian dari upaya membentuk kesejahteraan psikologis. Seni menjadi ruang bagi anak untuk mengekspresikan suasana kebatinannya,” katanya.
Fajar menilai karya-karya yang ditampilkan dalam pameran tersebut tidak hanya menunjukkan kemampuan teknis melukis, tetapi juga menghadirkan cara pandang anak terhadap kehidupan sehari-hari. Melalui warna, bentuk, dan cerita visual yang mereka ciptakan, anak-anak menyampaikan pengalaman, harapan, serta imajinasi mereka tentang dunia.
Ia menambahkan, pertemuan antara karya seniman dewasa dan karya anak-anak menghadirkan dialog kreatif yang saling memperkaya perspektif kedua belah pihak.
“Ketika satu wahana pameran mempertemukan karya orang dewasa tentang anak dan karya anak tentang dunianya, ini menjadi perjumpaan imajinasi dan dialog antara orang dewasa dengan anak. Dari proses itu bisa lahir berbagai gagasan dan karya kreatif yang luar biasa,” tuturnya.
Sementara itu, General Manager Bentara Budaya, Ilham Khoiri, menjelaskan bahwa pameran tersebut merupakan kolaborasi karya koleksi Bentara Budaya dengan karya anak-anak berusia 6 hingga 16 tahun yang diundang secara khusus untuk menggambarkan dunia mereka. Seluruh karya dalam pameran dikurasi oleh Frans Sartono dan Efix Mulyadi.
Menurut Ilham, karya para seniman dewasa umumnya menempatkan anak sebagai bagian dari narasi sosial yang lebih luas, mulai dari pendidikan hingga dinamika kehidupan masyarakat. Sebaliknya, karya anak-anak lebih banyak merekam pengalaman personal yang dituangkan secara spontan berdasarkan emosi dan imajinasi mereka.
“Bentara Budaya sangat mendukung anak-anak untuk berkembang melalui kreativitas. Melalui lukisan, anak-anak dapat menemukan dirinya dan bercerita tentang dunianya kepada orang lain,” ujar Ilham.
Pameran ini sekaligus menjadi pengingat bahwa pendidikan tidak hanya berlangsung di ruang kelas. Seni dapat menjadi medium yang membantu anak membangun kepercayaan diri, mengembangkan empati, serta memahami dunia dengan cara yang lebih humanis.
Di tengah tantangan era digital, ruang-ruang kreatif seperti ini dinilai penting untuk menjaga keseimbangan tumbuh kembang anak, sekaligus memperkuat ekosistem kebudayaan yang inklusif dan berkelanjutan. Ikuti berita inspiratif pendidikan, kebudayaan, dan pembangunan karakter bangsa hanya di Navaswara.com
