Navaswara.com – Di tengah pesatnya pembangunan dan modernisasi yang terus bergerak maju, Indonesia menghadapi satu tantangan penting: bagaimana memastikan kemajuan tidak mengikis akar budaya yang menjadi identitas bangsa. Pertanyaan inilah yang menjadi salah satu semangat utama dalam kunjungan kerja Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) bersama Kementerian Kebudayaan ke Samarinda, Kalimantan Timur, Senin (8/6/2026).
Bagi banyak orang, pembangunan sering kali identik dengan infrastruktur, investasi, atau pertumbuhan ekonomi. Namun bagi Deputi Bidang Koordinasi Penguatan Karakter dan Jati Diri Bangsa Kemenko PMK, Warsito, pembangunan memiliki makna yang lebih luas. Menurutnya, pembangunan manusia tidak dapat dipisahkan dari pembangunan kebudayaan. Sebab budaya merupakan fondasi yang membentuk karakter, nilai, dan jati diri sebuah bangsa.
Pandangan tersebut menjadi semakin relevan ketika Kalimantan Timur kini berada dalam sorotan nasional sebagai salah satu wilayah strategis yang akan menopang masa depan Indonesia. Di tengah perubahan besar yang terjadi, upaya menjaga warisan budaya dan memperkuat perlindungan masyarakat adat menjadi bagian yang tak terpisahkan dari proses pembangunan itu sendiri.
Dalam pertemuan yang melibatkan pemerintah pusat dan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur tersebut, berbagai isu strategis dibahas secara mendalam. Mulai dari perlindungan masyarakat adat, pengembangan warisan budaya, peningkatan Indeks Pembangunan Kebudayaan, hingga rencana pemanfaatan terminal lama Bandara Sepinggan menjadi Museum Etnografi Dayak.
Gagasan menjadikan terminal lama Bandara Sepinggan sebagai Museum Etnografi Dayak menjadi salah satu perhatian utama. Lebih dari sekadar tempat penyimpanan koleksi budaya, museum ini diharapkan menjadi ruang hidup yang mampu mempertemukan sejarah, pendidikan, dan pariwisata budaya dalam satu ekosistem yang saling menguatkan. Museum tersebut nantinya tidak hanya memperkenalkan kekayaan budaya Dayak kepada masyarakat Indonesia, tetapi juga kepada dunia internasional.
Di sisi lain, perhatian terhadap masyarakat adat juga menjadi agenda penting dalam pembahasan. Masyarakat adat selama ini tidak hanya berperan sebagai penjaga tradisi dan kearifan lokal, tetapi juga menjadi bagian dari identitas budaya bangsa yang harus dilindungi. Karena itu, berbagai langkah terus didorong, mulai dari penguatan pendataan kekayaan budaya hingga dukungan terhadap proses pengakuan masyarakat adat sesuai kewenangan pemerintah daerah.
Kalimantan Timur sendiri memiliki potensi budaya yang sangat besar. Hingga tahun 2026, tercatat sebanyak 64 Warisan Budaya Takbenda telah ditetapkan secara nasional, dan saat ini terdapat 33 usulan tambahan yang sedang dalam proses pengajuan. Angka tersebut menunjukkan bahwa daerah ini menyimpan kekayaan budaya yang luar biasa dan perlu terus dijaga keberlanjutannya.
Namun tantangan yang dihadapi tidak berhenti pada upaya pelestarian semata. Salah satu catatan penting yang muncul dalam pertemuan tersebut adalah masih rendahnya kontribusi dimensi ekonomi budaya dalam Indeks Pembangunan Kebudayaan Kalimantan Timur. Kondisi ini menunjukkan perlunya pendekatan yang lebih terpadu agar budaya tidak hanya menjadi warisan yang dilestarikan, tetapi juga mampu memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
Di sinilah pentingnya kolaborasi. Pemerintah pusat, pemerintah daerah, komunitas budaya, masyarakat adat, akademisi, hingga pelaku ekonomi kreatif perlu berjalan bersama membangun ekosistem kebudayaan yang produktif. Ketika budaya mampu menciptakan ruang edukasi, membuka lapangan kerja, menggerakkan sektor pariwisata, dan memperkuat identitas daerah, maka budaya tidak lagi dipandang sebagai pelengkap pembangunan, melainkan sebagai bagian dari penggeraknya.
Kunjungan kerja ini menjadi pengingat bahwa kemajuan sebuah bangsa tidak hanya diukur dari gedung yang menjulang atau teknologi yang berkembang pesat. Kemajuan juga diukur dari kemampuan sebuah bangsa menjaga akar budayanya, menghormati masyarakat adatnya, dan mewariskan identitasnya kepada generasi mendatang.
Karena pada akhirnya, pembangunan yang sesungguhnya adalah pembangunan yang tidak hanya membangun wilayah, tetapi juga membangun manusia. Dan manusia yang kuat adalah manusia yang mengenal sejarahnya, menghargai budayanya, serta bangga terhadap jati dirinya sebagai bagian dari Indonesia.
