Navaswara.com — Menjelang Hari Raya Idul Adha, suasana religius mulai terasa di berbagai penjuru. Masjid semakin ramai, kajian keislaman kembali dipadati jamaah, sementara media sosial dipenuhi ajakan memperbanyak ibadah dan amal kebaikan. Di tengah dinamika kehidupan modern, bulan Dzulhijjah kembali menghadirkan ruang refleksi bagi umat Muslim untuk memperkuat ketakwaan sekaligus kepedulian sosial.
Memasuki 10 hari pertama Dzulhijjah, umat Muslim dianjurkan memperbanyak amalan sunnah, termasuk menjalankan Puasa Tarwiyah dan Puasa Arafah yang memiliki keutamaan besar dalam ajaran Islam.
Berdasarkan kalender hijriah 2026, Puasa Tarwiyah dilaksanakan pada Senin, 25 Mei 2026 atau bertepatan dengan 8 Dzulhijjah. Sementara Puasa Arafah jatuh pada Selasa, 26 Mei 2026 atau 9 Dzulhijjah, bertepatan dengan momentum wukuf jamaah haji di Padang Arafah.
Puasa Arafah menjadi salah satu amalan sunnah yang sangat dianjurkan bagi umat Muslim yang tidak sedang menunaikan ibadah haji. Dalam hadis riwayat Muslim disebutkan bahwa puasa tersebut memiliki keutamaan menghapus dosa satu tahun yang lalu dan satu tahun yang akan datang.
Selain puasa sunnah, 10 hari pertama Dzulhijjah juga dianjurkan diisi dengan berbagai amalan seperti memperbanyak doa, tilawah Al-Qur’an, dzikir, istighfar, sedekah, serta memperkuat hubungan sosial dan kepedulian terhadap sesama.
Momentum Dzulhijjah tidak hanya memiliki dimensi spiritual, tetapi juga menghadirkan dampak sosial dan ekonomi yang luas di tengah masyarakat.
Menjelang Idul Adha, aktivitas ekonomi umat mulai bergerak melalui perdagangan hewan kurban, sektor peternakan, pelaku UMKM pangan, hingga distribusi kebutuhan masyarakat. Di berbagai daerah, tradisi gotong royong dan solidaritas sosial juga kembali menguat melalui pembagian daging kurban dan kegiatan berbasis komunitas.
Nilai pengorbanan dan keikhlasan yang menjadi inti Idul Adha dinilai relevan dengan kondisi masyarakat saat ini, terutama dalam memperkuat rasa kebersamaan dan kepedulian sosial di tengah tantangan ekonomi maupun perubahan sosial.
Hari-hari utama Dzulhijjah juga menjadi pengingat bahwa ibadah tidak berhenti pada hubungan spiritual semata, tetapi harus menghadirkan manfaat nyata bagi lingkungan sekitar.
Karena itu, banyak kalangan mengajak masyarakat menjadikan momentum Dzulhijjah sebagai ruang memperbaiki diri, memperkuat akhlak, dan menumbuhkan semangat berbagi kepada sesama.
Di tengah kehidupan yang semakin cepat dan digital, semangat Dzulhijjah kembali mengingatkan bahwa ketenangan hati, rasa syukur, dan kepedulian terhadap sesama tetap menjadi fondasi penting dalam membangun kehidupan yang lebih bermakna dan penuh keberkahan.
