BRIN Sebut Riset Budaya Indonesia Bisa Jadi Mesin Ekonomi Kreatif

Navaswara.com – Hasil riset arkeologi, bahasa, sastra, manuskrip, hingga tradisi lisan dinilai punya potensi besar untuk dikembangkan menjadi industri kreatif berbasis budaya yang edukatif dan berkelanjutan.

Hal itu mengemuka dalam diskusi BRIN Goes to Industry 4 bertema Pasar Festival Riset Arkeologi, Bahasa, dan Sastra (Arbastra) untuk Ekonomi Kreatif di Gedung BJ Habibie, Jakarta, Rabu (20/5). Diskusi tersebut menghadirkan sejumlah narasumber dari berbagai bidang, mulai dari perfilman, budaya, museum, hingga industri jamu.

Sekretaris Jenderal Dewan Jamu Indonesia Fajar Prasetya mengatakan, Indonesia memiliki peluang besar menjadi pemain utama industri wellness dan gastronomi berbasis budaya karena kekayaan biodiversitas dan budaya yang dimiliki.

Menurutnyaa, nilai pasar global kuliner, wellness, dan herbal industry pada 2023 mencapai sekitar Rp 120 ribu triliun. Namun, potensi besar tersebut dinilai belum dimanfaatkan maksimal oleh Indonesia.

“Kita punya modal mega diversity dan mega culture. Kita punya sumber daya alam dan budaya yang luar biasa, tinggal diperkuat dari sisi riset dan storytelling berbasis eviden,” ujar Fajar.

Ia menilai kolaborasi antara Badan Riset dan Inovasi Nasional dan Dewan Jamu Indonesia penting untuk memperkuat riset gastronomi, kesehatan preventif, serta narasi budaya yang bisa diterjemahkan menjadi produk ekonomi kreatif bernilai tinggi.

Kepala Pusat Riset Khazanah Keagamaan dan Peradaban BRIN Wuri Handoko mengungkapkan, asil riset Arbastra dapat menjadi fondasi pengembangan wisata budaya berbasis pengetahuan.

Ia memaparkan, destinasi wisata tidak hanya dipandang sebagai ruang fisik, tetapi juga ruang pengetahuan yang menyimpan sejarah, lanskap budaya, tradisi hidup, ruang sakral, hingga praktik masyarakat yang membentuk makna suatu tempat.

“Melalui riset dan inovasi, potensi tersebut dapat dibaca, didokumentasikan, dan dikembangkan menjadi pengalaman pariwisata berbasis budaya yang edukatif, relevan, dan berkelanjutan,” kata Wuri.

Ia mencontohkan eksplorasi kapal karam di Lagoi, Tanjung Pinang, yang dinilai memiliki potensi wisata bahari berbasis sejarah sekaligus membuka pemahaman tentang jalur perdagangan maritim Nusantara.

Selain itu, Situs Bongal di pesisir barat Sumatra juga disebut menunjukkan kawasan pesisir sebagai simpul perdagangan, keagamaan, dan pertukaran budaya pada masa lalu.

Di Kutai, keberadaan Batu Altar Jingtiu, makam Raja Datu Mahkota, dan makam Habib Tunggang Parangan dinilai memiliki potensi pengembangan wisata religi dan sejarah dengan tetap menghormati konteks lokal.

Tak hanya situs sejarah, Wuri juga menyoroti tradisi hidup masyarakat yang dinilai dapat dikembangkan menjadi pengalaman wisata budaya autentik.

Beberapa tradisi yang disebut antara lain cium hidung di Sumba, Dabus di Tidore, Magirik Bisu dan Matutu dalam budaya Bugis, Maudulompoa di Takalar, Sirih Pinang di Papua, hingga pengolahan tradisional minyak kayu putih di Pulau Buru.

“Pengalaman wisata dapat lahir dari praktik budaya yang masih dijalankan masyarakat,” ujarnya.

Riset, kata Wuri, memiliki peran penting dalam menyusun narasi wisata secara utuh, bukan hanya menampilkan apa yang dilihat wisatawan, tetapi juga menjelaskan asal-usul, fungsi, nilai, perubahan, dan relevansinya bagi masyarakat saat ini.

“Dengan pendekatan ini, pariwisata tidak hanya menjadi aktivitas berkunjung, tetapi menjadi cara untuk merawat warisan, memperkuat identitas, dan membuka peluang ekonomi,” katanya.

Desainer sekaligus anggota DPR RI Samuel JD Wattimena menyoroti pentingnya menjaga identitas budaya, khususnya pada wastra batik Nusantara. Ia mengaku khawatir identitas motif batik daerah semakin kabur akibat perkembangan teknologi dan tuntutan pasar.

“Pembatik Solo sekarang bisa membuat motif Pekalongan, pembatik Pekalongan bisa membuat motif Jogja. Kebudayaan memang berkembang, tetapi identitas daerah jangan hilang,” katanya.

Samuel berharap BRIN dapat membantu mendokumentasikan identitas setiap motif batik Nusantara sebagai bentuk pertahanan budaya nasional sekaligus referensi bagi industri kreatif.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Pusat Riset Manuskrip, Literatur, dan Tradisi Lisan BRIN Sastri Sunarti menjelaskan, riset BRIN telah memetakan perkembangan batik berdasarkan sejarah, pengaruh budaya asing, hingga indikator geografis.

Ia mencontohkan batik Tanah Liek dari Sumatera Barat yang memiliki ciri khas berupa motif tumbuhan laut dengan pewarna alami dari kulit jengkol serta simbol rumah gadang sebagai identitas budaya Minangkabau.

“Riset-riset seperti ini penting untuk memperkuat pengetahuan tentang identitas budaya dan menjadi dasar pengembangan industri kreatif berbasis tradisi,” ujar Sastri.

Sementara itu, produser film sekaligus Ketua Bidang Fasilitasi Pembiayaan Badan Perfilman Indonesia, Tesadesrada Ryza, mengatakan hasil riset budaya juga perlu diterjemahkan melalui strategi komunikasi dan audiovisual yang tepat agar dapat menjangkau masyarakat secara lebih luas.

Perkembangan platform digital, sambungnya, membuat pola konsumsi masyarakat berubah dari pasif menjadi interaktif, sehingga produk budaya Indonesia harus disampaikan melalui kanal yang sesuai dengan target audiens.

“Kita harus tahu produk budaya ini ingin disampaikan kepada siapa dan lewat channel yang bagaimana, sehingga riset yang sudah mendalam tidak berhenti hanya pada produksi, tetapi benar-benar sampai kepada masyarakat,” ujarnya.

Ia menilai riset pasar dan perilaku audiens juga penting agar produk budaya, wastra, tradisi, maupun kekayaan budaya Nusantara dapat berkembang menjadi konten kreatif yang memiliki dampak sosial, budaya, dan ekonomi secara berkelanjutan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *