Navaswara.com – Jauh sebelum masyarakat mengenal instalasi air bersih modern seperti PDAM, Kesultanan Banten pada abad ke-16 sudah mengoperasikan sistem pengolahan air yang sangat canggih. Sistem ini bekerja secara bertahap, terencana, dan memanfaatkan gaya gravitasi sebagai tenaga penggerak utamanya.
Bukti kehebatan teknologi masa lalu ini masih bisa dijumpai di kawasan Banten Lama, Kabupaten Serang. Di sana terdapat danau buatan luas bernama Tasikardi serta tiga bangunan penyaring air yang disebut sebagai Pengindelan Abang, Pengindelan Putih, dan Pengindelan Emas.
Danau Buatan dengan Dasar Bata Merah
Tasikardi yang terletak di Desa Margasana memiliki luas sekitar 6,5 hektare. Danau ini dibangun pada masa pemerintahan Sultan Maulana Yusuf yang berkuasa antara tahun 1570 hingga 1580.
Keunikan Tasikardi terletak pada konstruksi dasarnya. Berbeda dengan waduk alami, seluruh dasar danau ini dilapisi ubin bata merah untuk menjaga kualitas air yang bersumber dari Sungai Cibanten. Danau ini berfungsi ganda, yakni memenuhi kebutuhan air bersih keluarga sultan di Keraton Surosowan serta mengairi lahan pertanian di sekitarnya.
Air dari Tasikardi tidak langsung mengalir begitu saja. Distribusinya menggunakan jaringan pipa bawah tanah yang terbuat dari terakota atau tanah liat bakar.
Berdasarkan data Balai Pelestarian Cagar Budaya atau BPCB Banten, diameter pipa ini bervariasi mulai dari 2 hingga 40 sentimeter. Perbedaan ukuran ini merupakan strategi teknis untuk memperkuat daya dorong air sehingga aliran tetap stabil hingga mencapai keraton tanpa memerlukan pompa mekanis.
Tiga Tahap Penyaringan Alami
Sebelum layak dikonsumsi, air harus melewati tiga tahap penyaringan di bangunan khusus berbentuk bunker yang menggunakan material alami berupa pasir serta ijuk untuk menyaring kotoran. Proses bermula di Pengindelan Abang sebagai pos pertama tempat air dari Tasikardi diendapkan selama sekitar tiga hari hingga seluruh lumpur mengendap sempurna. Selanjutnya aliran air menuju ke Pengindelan Putih yang berfungsi sebagai tahap penyaringan kedua guna memastikan partikel kotoran semakin berkurang secara signifikan. Rangkaian teknis ini akhirnya mencapai puncaknya di Pengindelan Emas sebagai tahap akhir yang menghasilkan air berkualitas jernih serta layak untuk memenuhi seluruh kebutuhan harian keluarga kerajaan di lingkungan keraton.
Keberhasilan sistem ini didukung oleh manajemen yang rapi. Ada kelompok petugas khusus yang disebut ulu-ulu air. Mereka bertanggung jawab mengatur buka-tutup pintu air sesuai siklus pengendapan dan memastikan saluran pipa tidak tersumbat oleh sedimen.
Kepala BPCB Banten, Joesoef Boedi Arijanto, menjelaskan bahwa sistem ini menunjukkan adanya diferensiasi penggunaan air. Air yang memenuhi standar kejernihan tertinggi dialirkan khusus ke keraton, sedangkan air sisa penyaringan dimanfaatkan untuk irigasi sawah.
Akulturasi Teknologi Tiga Budaya
Secara arsitektur, sistem pengolahan air di Banten Lama merupakan perpaduan antara kearifan lokal, teknologi Tiongkok, dan pengaruh Belanda.
Sayangnya, meski menyimpan nilai sejarah dan teknologi yang luar biasa, kondisi bangunan pengindelan saat ini dilaporkan mengalami kerusakan. Meskipun sistem pengairan ini merupakan bukti kecanggihan teknologi masa lalu, keberadaannya memang cukup memprihatinkan jika dibandingkan dengan situs utama lainnya di kawasan Banten Lama. Banyak pihak berharap adanya perhatian lebih terhadap pelestarian situs cagar budaya ini agar bukti kecerdasan nenek moyang tersebut tidak hilang ditelan zaman.

