Navaswara.com – Perusahaan teknologi informasi asal Indonesia, DesktopIP, resmi menjalin kolaborasi strategis dengan Institut Sains dan Teknologi Nasional (ISTN). Penandatanganan nota kesepahaman (MoU) tersebut dilakukan oleh Chief Executive Officer DesktopIP Phidi Soepangkat dan Wakil Rektor Bidang Sumber Daya ISTN Dr. Rivira Yuana, S.T., M.T.
Langkah ini menjadi tonggak penting dalam membangun sinergi antara sektor akademik dan industri untuk mengoptimalkan potensi teknologi serta sumber daya manusia di Tanah Air.
Kerja sama ini bertujuan untuk meningkatkan aktivitas riset dan pengembangan (R&D) dengan membangun platform kolaboratif. Harapannya, mahasiswa maupun dosen dapat berkontribusi aktif dalam kemajuan teknologi masa depan guna menghasilkan produk inovatif yang berdaya saing global dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Meski demikian, ekosistem R&D di Indonesia saat ini masih dihadapkan pada sejumlah tantangan struktural. Berdasarkan data ReportLinker, pengeluaran R&D di era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto tercatat baru mencapai 0,34 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) selama dua tahun terakhir.
Angka tersebut masih terpaut jauh di bawah negara Asia Tenggara lainnya, seperti Singapura (2,0 persen), Thailand (1,33 persen), dan Malaysia (1,0 persen). Kesenjangan ini makin diperparah oleh minimnya konektivitas antara institusi akademik dan pelaku industri, serta masih tingginya sikap keengganan mengambil risiko terhadap inovasi baru yang dinilai menghambat kemajuan teknologi lokal.
Merespons kondisi tersebut, CEO DesktopIP Phidi Soepangkat menyampaikan bahwa ekosistem R&D di Indonesia masih terjebak pada pola pikir yang kurang mendukung inovasi.
“Banyak pemangku kepentingan masih ragu menghadapi ketidakpastian tanpa memperhitungkan dampak jangka panjangnya. Padahal, inovasi justru menuntut keberanian untuk mengeksplorasi wilayah baru, bukan sekadar urusan besaran investasi,” ujar Phidi saat acara penandatanganan MoU pada 22 April lalu.
Guna menjembatani kesenjangan tersebut, langkah strategis ini dirancang untuk menumbuhkan ekosistem inovasi yang kohesif dan mendorong pengembangan teknologi nasional secara komprehensif. Cakupannya meliputi seluruh spektrum teknologi, mulai dari elemen dasar seperti sistem operasi hingga solusi di tingkat aplikasi.
Berbekal peta jalan teknologi yang teruji di lapangan, kemitraan ini akan menggabungkan kerangka teoritis akademik dengan pengalaman praktis di industri. Fokus inisiatif ini tidak hanya pada pengembangan produk jadi, tetapi juga menghasilkan solusi teknologi yang layak komersial, berorientasi pada inovasi berkelanjutan, dan berkontribusi pada peningkatan kualitas SDM nasional.
Wakil Rektor ISTN Rivira Yuana turut menegaskan bahwa dengan warisan akademik yang panjang, ISTN menyadari keharusan untuk berevolusi menjadi institusi yang adaptif.
“Bersaing di ranah teknologi manufaktur memiliki keterbatasan tersendiri bagi Indonesia. Oleh karena itu, transisi ke arena digital, khususnya teknologi virtualisasi, menjadi sebuah keniscayaan strategis. Dalam konteks ini, DesktopIP telah memantapkan diri sebagai pelopor, sehingga kolaborasi ini menjadi peluang penting bagi ISTN untuk tampil sebagai pusat riset dan pengembangan unggulan,” tutur Rivira.
Dalam kurun waktu satu hingga tiga tahun ke depan, kolaborasi ini ditargetkan mampu mendirikan pusat riset teknologi khusus. Hasil dari pusat riset ini nantinya akan diukur melalui dua metrik utama, yaitu relevansi dengan kebutuhan pasar domestik dan kepatuhan terhadap standar kualitas internasional.
ISTN juga akan berperan sebagai mitra utama dalam memetakan, mendokumentasikan, dan memvalidasi inisiatif riset DesktopIP secara akademik. Di saat yang sama, kerja sama ini akan memfasilitasi integrasi talenta muda melalui program pendidikan berbasis industri.
Seluruh produk yang dihasilkan dari kemitraan ini akan dikomersialkan melalui platform Aplikadia, guna memastikan setiap inovasi mencapai kematangan teknis dan dampak ekonomi yang terukur.
Ketua Program Studi Teknik Informatika ISTN Ashari Abidin S.T., M.T. menambahkan, DesktopIP memiliki posisi unik dalam mengembangkan teknologi inti Indonesia, terutama di domain kritis yang sering terabaikan seperti sistem operasi dan virtualisasi.
“Dengan ekosistem solusi yang terintegrasi secara menyeluruh, tervalidasi, dan bebas dari ketergantungan eksternal, kami yakin kemitraan ini akan membuka peluang pertumbuhan eksponensial bagi industri teknologi nasional,” pungkas Ashari.
