BRIN Ungkap Kulit Pisang, Bisa Tingkatkan Nilai Ekonomi

Navaswara.com – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkap potensi besar pengolahan singkong dan pisang menjadi tepung modifikasi untuk meningkatkan nilai tambah komoditas lokal.

Peneliti BRIN Ade Saepudin mengatakan, Indonesia merupakan produsen ubi kayu terbesar kedua di dunia setelah Brasil, dengan produksi mencapai sekitar 21 juta ton.

Namun, singkong segar memiliki kelemahan karena cepat rusak dan berisiko mengandung senyawa beracun jika tidak segera diolah.

Menurut Ade, pengolahan menjadi tepung MOCAF (Modified Cassava Flour) melalui fermentasi dapat memperpanjang umur simpan secara signifikan.

“Umur simpan bisa meningkat dari sekitar 48 jam menjadi 4.800 jam,” ujarnya dalam workshop di Majalengka, Jawa Barat.

Selain lebih tahan lama, tepung MOCAF juga memiliki keunggulan bebas gluten dan indeks glikemik yang lebih rendah, sehingga dinilai cocok untuk kebutuhan pangan modern.

BRIN juga menyoroti potensi pengolahan pisang. Berdasarkan data 2024, Indonesia merupakan produsen pisang terbesar ketiga di dunia dengan produksi lebih dari 9 juta ton.

Tidak hanya daging buah, kulit pisang juga dinilai berpotensi diolah menjadi tepung.

“Tepung kulit pisang memiliki kandungan serat, antioksidan, dan mineral yang tinggi, sehingga berpotensi sebagai pangan fungsional,” kata Ade.

Pemanfaatan ini sejalan dengan konsep ekonomi sirkular atau zero waste, karena mengolah limbah menjadi produk bernilai ekonomi.

Dari sisi bisnis, BRIN mencatat produksi tepung pisang skala UMKM dapat menghasilkan laba sekitar Rp90.000 per hari dengan kapasitas 100 kilogram bahan baku. Sementara tepung MOCAF menghasilkan sekitar Rp40.000 per hari.

Meski demikian, produk tepung kulit pisang masih menghadapi tantangan pasar. Namun, peluang tetap terbuka jika bahan baku diperoleh dari limbah industri.

Ade mendorong pelaku usaha untuk meningkatkan nilai tambah dengan mengolah tepung menjadi produk jadi, seperti kue kering atau camilan sehat.

Strategi pemasaran dengan menonjolkan aspek kesehatan dan ramah lingkungan juga dinilai penting untuk menarik minat konsumen.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *