Navaswara.com – Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta kembali menghadirkan forum diskusi global melalui seminar internasional bertajuk Ambassador and Expert Talk: The Middle East Conflict and The Future of the Multipolar World yang digelar di lingkungan FISIP, Kamis, 16 April 2026. Isu yang diangkat tidak ringan, mulai dari konflik Timur Tengah hingga arah baru tatanan dunia yang kini bergerak menuju sistem multipolar.
Dalam forum tersebut, Duta Besar Federasi Rusia untuk Indonesia Sergei Gennadievich Tolchenov menyoroti perubahan mendasar dalam keseimbangan kekuatan global. Ia melihat dinamika konflik di Timur Tengah menjadi cermin bahwa dunia tidak lagi dikendalikan oleh satu kekuatan dominan, melainkan bergerak ke arah relasi yang lebih kompleks antarnegara.
Menurut Sergei, perkembangan geopolitik saat ini menunjukkan bahwa sistem unipolar semakin ditinggalkan. Interaksi antarnegara kini membentuk konfigurasi baru yang lebih beragam, dengan banyak aktor yang memiliki pengaruh signifikan dalam menentukan arah global.
Ia juga menekankan pentingnya menjaga prinsip dasar hubungan internasional, terutama penghormatan terhadap kedaulatan negara dan nonintervensi. Pendekatan sepihak, menurutnya, justru berpotensi memperluas konflik dan memperumit upaya penyelesaian.
“Stabilitas global hanya bisa dicapai jika setiap negara saling menghormati kedaulatan dan tidak memaksakan kepentingannya,” kira-kira menjadi benang merah dari pandangannya.

Dalam konteks konflik yang melibatkan Iran, Sergei menilai eskalasi yang terjadi tidak bisa dilepaskan dari tarik-menarik kepentingan geopolitik dan ekonomi global. Karena itu, konflik tersebut perlu dibaca dalam konteks yang lebih luas, bukan sekadar persoalan kawasan.
Selain itu, ia juga menyoroti semakin kuatnya peran negara-negara di luar blok Barat. Fenomena ini terlihat dari meningkatnya kerja sama multilateral, lahirnya aliansi strategis baru, serta semakin besarnya pengaruh negara non-Barat dalam percaturan dunia.
Seminar ini turut menghadirkan Duta Besar Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, dan akademisi internasional, Tim Anderson. Kehadiran mereka memberi warna tersendiri, memperkaya diskusi dari sisi diplomatik sekaligus akademik.
Bagi UPNVJ, forum ini bukan sekadar kegiatan akademik rutin. Lebih dari itu, ini menjadi cara kampus membuka ruang dialog lintas perspektif agar sivitas akademika dan publik bisa memahami perubahan dunia dengan lebih utuh dan kritis.
