Harga Minyak Tembus $112, AS Terpaksa Longgarkan Sanksi Iran

Navaswara.com – Presiden Donald Trump terpaksa melonggarkan sebagian sanksi terhadap minyak Iran demi meredam lonjakan harga energi.

Langkah ini diambil setelah konflik yang berlangsung sekitar tiga minggu belum menunjukkan tanda mereda. Harga minyak dan gas terus naik, salah satunya dipicu terganggunya jalur vital di Selat Hormuz.

Sejumlah pejabat internal bahkan memperkirakan gangguan ini bisa berlangsung berbulan-bulan jika situasi semakin memanas.

Harga Minyak Tembus Level Tinggi

Sebelumnya, Amerika Serikat sudah mengerahkan berbagai cara untuk menahan kenaikan harga.

Mulai dari melepas ratusan juta barel minyak dari cadangan strategis, melonggarkan pembatasan terhadap minyak Rusia, hingga mendorong produksi dalam negeri.

Namun, langkah tersebut belum cukup efektif.

Harga minyak mentah Brent masih bertahan di kisaran 112 dolar AS per barel. Sementara itu, harga bensin di dalam negeri AS mendekati 4 dolar AS per galon.

Dalam situasi ini, Gedung Putih akhirnya memberi kelonggaran sementara terhadap minyak Iran.

Sekitar 140 juta barel minyak Iran yang sudah berada di laut diizinkan untuk dijual. Pasokan ini diarahkan ke negara-negara sekutu AS guna menambah suplai di pasar.

Seorang pejabat AS mengakui bahwa minyak tersebut pada dasarnya tetap akan dijual oleh Iran.

Karena itu, pemerintah memilih membiarkan negara-negara pro-Amerika membelinya agar bisa membantu menstabilkan harga.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan, “Langkah ini sebagai upaya memanfaatkan minyak Iran untuk menjaga harga tetap rendah.”

Senada dengan Bessent, Duta Besar AS untuk PBB Mike Waltz menegaskan bahwa kebijakan ini hanya bersifat sementara untuk meredam lonjakan harga energi.

Dilema di Tengah Tekanan terhadap Iran

Keputusan ini menempatkan AS dalam posisi yang tidak mudah.

Di satu sisi, Washington masih berkonfrontasi dengan Iran. Namun di sisi lain, pelonggaran ini secara tidak langsung tetap membuka pemasukan bagi Teheran.

Langkah tersebut juga dinilai bertentangan dengan sikap keras Trump sebelumnya terhadap Iran.

Sejumlah analis menilai efek kebijakan ini kemungkinan tidak akan bertahan lama.

Pasalnya, 140 juta barel minyak hanya setara sekitar 1,5 hari konsumsi global. Setelah pasokan itu habis, pasar berpotensi kembali mengalami tekanan.

Di sisi lain, opsi kebijakan tambahan juga terbatas.

AS tidak berencana membatasi ekspor minyaknya sendiri, dan enggan melakukan intervensi besar-besaran karena khawatir justru memperparah gangguan pasar.

Risiko Harga Tinggi Berkepanjangan

Jika jalur pelayaran di Selat Hormuz belum pulih dalam waktu dekat, tekanan terhadap harga energi diperkirakan akan terus berlanjut.

Kondisi ini membuka kemungkinan dunia menghadapi periode harga minyak dan gas yang tinggi dalam jangka lebih panjang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *