Navaswara.com – Kanker paru bukan lagi penyakit eksklusif bagi lansia atau perokok berat. Pergeseran profil demografi pasien kanker paru di Indonesia kini mulai menyasar kelompok usia produktif antara 30 hingga 59 tahun. Data RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar selama periode 2002–2019 menunjukkan bahwa hampir 63 persen kasus ditemukan pada individu di rentang usia tersebut, termasuk mereka yang bukan perokok dan menjalani gaya hidup aktif.
Fenomena ini menandai perubahan lanskap penyakit nasional yang menuntut penguatan sistem deteksi dini serta pembenahan kualitas ruang publik demi menekan risiko kesehatan pada populasi usia kerja.
Dalam media briefing bertajuk “Pergeseran Demografi Kanker di Indonesia Kanker Paru pada Usia Produktif”, Dr. Tanujaa Rajasekaran dari Parkway Cancer Centre memaparkan perubahan profil pasien yang kini semakin beragam. Ia menegaskan faktor seperti paparan asap rokok pasif, polusi udara, risiko di tempat kerja, serta genetik perlu diwaspadai bersama.
“Meskipun merokok masih menjadi faktor risiko utama, kami semakin sering menemukan pasien lebih muda dan tidak memiliki riwayat merokok,” ujarnya. Ia menambahkan gejala yang bertahan lebih dari beberapa minggu perlu segera dievaluasi agar peluang terapi lebih baik.

Salah satu pasiennya adalah profesional berusia 42 tahun yang memeriksakan batuk berkepanjangan. Tanpa riwayat merokok dan merasa sehat, ia justru didiagnosis kanker paru non sel kecil stadium IV setelah pemeriksaan lanjutan.
Cerita serupa ikut membuka kesadaran publik ketika sejumlah figur dikenal berbagi pengalaman. Mendiang Ria Mariaty ibunda Raisa Andriana serta aktris Kiki Fatmala menjadi pengingat bahwa kanker paru dapat menyerang tanpa memandang latar belakang.
Tantangan terbesar masih terletak pada keterlambatan diagnosis. Batuk berkepanjangan, nyeri dada, mudah lelah, atau sesak napas kerap dianggap gangguan biasa sehingga banyak pasien datang ketika penyakit telah memasuki stadium lanjut.
Perkembangan terapi dalam dua dekade terakhir memberi harapan baru. Selain kemoterapi, dokter kini memanfaatkan imunoterapi dan terapi radiasi proton yang bekerja lebih presisi sekaligus membantu pasien tetap menjalani aktivitas selama pengobatan.

“Pengobatan yang terpersonalisasi membantu kami memilih terapi yang lebih efektif dan dapat ditoleransi pasien usia produktif yang tetap memiliki tanggung jawab keluarga dan pekerjaan,” jelas Dr. Tanujaa. Ia menekankan pemeriksaan dini dapat menentukan arah perjalanan penyakit.
Melalui layanan dukungan nirlaba CanHOPE, PCC juga menyediakan konseling bagi pasien dan keluarga. Pendampingan emosional dinilai sama pentingnya dengan intervensi medis agar pasien tidak merasa sendirian menghadapi proses panjang ini.
Pergeseran ini menuntut kewaspadaan baru terutama bagi perempuan aktif yang kerap merasa sehat dan sibuk mengurus banyak peran. Mengenali gejala sejak awal dan berkonsultasi tanpa menunda dapat menjadi keputusan krusial bagi diri sendiri serta orang terdekat.

