4 Hal yang Harus Diwaspadai agar Keuangan Tidak Jebol Selama Ramadan

Navaswara.com – Bulan puasa identik dengan momen kebersamaan, berbagi, dan ibadah. Tanpa disadari, selama Ramadan juga bisa terjadi momen jebakan finansial yang menguras tabungan lebih cepat dari perkiraan. Tagihan membengkak, dompet menipis, dan uang THR habis sebelum Lebaran tiba, situasi ini mungkin terasa familiar bagi banyak orang. Data menunjukkan hal ini bukan tebakan atau perasaan semata.

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), pengeluaran rumah tangga meningkat 20–30 persen selama Ramadan, harga bahan pokok naik hingga 10–15 persen, dan limbah makanan bertambah 40 persen dibandingkan dengan bulan biasa. Angka-angka ini menjadi pengingat bahwa tanpa perencanaan yang rapi, kondisi keuangan bisa memburuk setelah Ramadan berlalu.

Berikut empat hal yang perlu diwaspadai agar pengeluaran selama bulan puasa tetap terkendali.

1. Frekuensi Buka Puasa Bersama yang Tak Terbendung

Tak dimungkiri undangan bukber datang bertubi-tubi, dari teman sekolah, rekan kantor, hingga komunitas. Satu dua kali mungkin tidak terasa. Namun ketika dijumlahkan, biaya makan di luar dapat melampaui anggaran normal. Survei JakPat 2023 menunjukkan 87,3 persen masyarakat berencana mengikuti acara buka puasa bersama keluarga dan kerabat selama Ramadan.

Secara psikologis, puasa menempatkan tubuh dalam kondisi hot state akibat rasa lapar dan lelah. Dalam kondisi ini, kemampuan pengendalian diri melemah sehingga keputusan impulsif lebih mudah terjadi. Efek dopamin yang memicu rasa senang juga membuat proses membeli makanan terasa lebih memuaskan meski tidak semuanya dikonsumsi.

Solusinya bukan menolak semua undangan, tetapi bersikap selektif. Tetapkan jatah bukber sejak awal Ramadan dan disiplin pada batas yang sudah dibuat.

2. Biaya Komunikasi dan Transportasi Melonjak

Ramadan membuat mobilitas meningkat. Pulang lebih malam karena bukber, pergi tarawih, kajian, hingga silaturahmi antar keluarga membutuhkan ongkos tambahan. Biaya pulsa dan data juga bertambah karena intensitas komunikasi meningkat untuk mengatur berbagai agenda.

Laporan Ipsos menyebut pengeluaran individu selama Ramadan naik hingga 1,6 kali lipat dibanding bulan biasa. MetroTV News Lonjakan ini bukan berasal dari satu pos besar, melainkan akumulasi banyak pengeluaran kecil yang luput dicatat, termasuk transportasi dan komunikasi. Mencatat transaksi harian membantu melihat ke mana uang benar-benar mengalir.

3. Godaan Belanja Baju dan Perlengkapan Lebaran

Pusat perbelanjaan dan platform e-commerce sudah menggulirkan promo sejak awal puasa. Data InMobi dan Glance menunjukkan 40 persen konsumen Indonesia mulai berbelanja dua minggu sebelum Ramadan. Riset Continuum Data Indonesia mencatat konsumsi pakaian naik 47 persen selama Ramadan dan menjadi kategori dengan lonjakan tertinggi.

Angka tersebut menggambarkan kuatnya dorongan belanja menjelang Lebaran. Sebelum melakukan pembayaran, pertimbangkan kembali apakah barang itu benar dibutuhkan. Anggaran sandang yang jelas membantu menjaga pengeluaran tetap rasional.

4. Kenaikan Harga Kebutuhan Pokok Menjelang Lebaran

Faktor eksternal ini kerap terasa di luar kendali namun dampaknya nyata. Komoditas seperti beras, cabai, bawang merah, gula, dan daging ayam ras hampir selalu muncul dalam rilis inflasi bulanan BPS menjelang Ramadan dan Idul Fitri.

Ekonom Indonesia Strategic and Economic Action Institution ISEAI Ronny P Sasmita menyebut konsumsi masyarakat memang meningkat selama Ramadan dan salah satu pendorongnya adalah kenaikan harga pangan pada periode ini. Ia mengingatkan agar masyarakat tetap membeli sesuai kebutuhan karena penimbunan justru memperburuk kelangkaan.

Kenaikan pengeluaran selama Ramadan merupakan pola yang berulang setiap tahun. Dengan mengenali titik-titik rawan sejak awal, ruang gerak finansial tetap terjaga hingga Lebaran tiba.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *