Navaswara.com – Wahyu Wiwoho, sosok yang berkecimpung di bidang komunikasi dan public relations (PR), membagikan satu konsep yang menarik di laman Instagram pribadinya @wahyuwiwoho, yakni smiling text.
Memang, belum ada istilah resminya dalam literatur akademik. Namun, konsep ini mirip dengan smiling voice dalam komunikasi audio, teknik berbicara sambil tersenyum agar suara terdengar lebih hangat.
“Bedanya, smiling text adalah cara menulis pesan yang membuat pembacanya merasakan keramahan, kehangatan, dan emosi positif, meski tanpa suara,” tulis Wahyu.
Di era chat dan email yang serba cepat, pesan yang salah nada bisa memicu salah paham. Padahal, maksudnya sederhana. Di sinilah smiling text jadi relevan, menghadirkan “senyum” lewat tanda baca, pilihan kata, dan etika berbahasa.
Gunakan Tanda Baca dengan Benar
Sering kali kita menulis pesan panjang tanpa jeda. Akibatnya, pembaca seperti kehabisan napas saat membaca.
Jangan:
Coba cari di laci meja ada gak kertas catatan rapat kemarin kalau gak ada cari di tas saya.
Yang benar:
Coba cari di laci meja. Ada gak kertas catatan rapat kemarin? Kalau gak ada, cari di tas saya.
Bandingkan cara baca dua kalimat di atas.
Tanda baca seperti titik, koma, dan tanda tanya memberikan penekanan berupa “nada” sehingga membantu pembaca memahami maksud kita dengan lebih mudah. Tanpa tanda baca, pesan bisa terasa terburu-buru, bahkan seperti perintah.
Pakai Bahasa Tutur
Bahasa tutur adalah bahasa yang biasa kita gunakan saat berbicara langsung. Dalam komunikasi lisan, nada suara dan gerakan tubuh membantu melembutkan maksud. Dalam teks, fungsi itu digantikan oleh pilihan kata.
Jangan:
Kirim sekarang.
Yang lebih hangat:
Tolong dikirim sekarang, ya.
Kata tolong dan ya adalah partikel pelembut. Kalimat kedua terasa lebih santun dan tidak mengintimidasi.
Dalam praktik komunikasi, ada yang disebut three magic words, yakni tolonga, maaf, dan terima kasih.
Contohnya:
Selamat malam, Pak. Maaf mengganggu waktu istirahatnya. Ingin mengingatkan agar besok pagi jangan lupa, tolong dibawa dokumen yang dibutuhkan, ya. Terima kasih.
Sederhana, tapi efeknya besar.
Pokoknya, kalau minta bantuan, pakai tolong. Kalau sudah dibantu, ucapkan terima kasih. Kalau salah, jangan ragu bilang maaf.
Hati-hati Pakai Emoji
Emoji memang bisa memperkuat ekspresi. Tapi perlu diingat, emoji itu pelengkap, bukan pesan utama.
Contohnya, jangan membalas ucapan terima kasih hanya dengan 👍.
Tanpa kata-kata, emoji bisa terasa datar, bahkan memberi kesan agresif atau sombong. Lebih baik tetap sertakan respons verbal, lalu tambahkan emoji jika perlu.
Emoji yang berdiri sendiri berisiko menimbulkan interpretasi berbeda. Apalagi dalam konteks profesional.
Intinya: Bayangkan lawan bicara ada di depan Anda. Kunci dari smiling text adalah empati.
“Bayangkan lawan bicara sedang berdiri di depan Anda saat mengetik pesan. Apakah kalimat itu terdengar sopan? Apakah nadanya menghargai? Apakah terasa hangat?” jelas Wahyu.
Karena pada akhirnya, komunikasi bukan hanya soal menyampaikan pesan. Tapi juga menjaga hubungan.
Melalui smiling text, pesan singkat sekalipun bisa menjadi jembatan yang memperkuat rasa saling menghargai, meski tanpa suara, meski tanpa tatap muka.
