Menyusuri Makna Ramadan dalam Nuansa “Aladdin” di Citadines Antasari Jakarta

Navaswara.com — Ramadan selalu datang membawa ritme yang berbeda. Waktu terasa melambat, pertemuan menjadi lebih bermakna, dan meja makan kembali menjadi ruang berbagi cerita. Di tengah dinamika Jakarta yang nyaris tak pernah berhenti, Citadines Antasari Jakarta mencoba menghadirkan ruang jeda itu melalui pengalaman berbuka puasa bertema “Aladdin – All You Can Eat Dinner Citadines” selama Ramadan 2026.

Bertempat di Citadines Café lantai dua, suasana berbuka tidak disajikan sebagai jamuan biasa. Dekorasi terinspirasi kisah 1001 malam menghadirkan nuansa hangat dan magis, seolah mengajak tamu melangkah sejenak ke dunia lain yang lebih tenang, lebih intim. Ketika azan magrib mendekat, alunan musik gambus yang dimainkan secara live setiap akhir pekan mengisi ruang, menambah kesyahduan momen berbuka.

Di meja makan, hidangan Timur Tengah berpadu dengan cita rasa Nusantara dan Asia, menghadirkan rasa yang akrab sekaligus baru. Namun lebih dari soal menu, pengalaman ini terasa sebagai ajakan untuk kembali menikmati proses menunggu waktu berbuka, berbagi hidangan, dan bercakap tanpa tergesa. Sebuah pengalaman sederhana yang kerap terlupa di tengah gaya hidup urban yang serba cepat.

General Manager Citadines Antasari Jakarta, Ari Suciana, memaknai program Ramadan tahun ini sebagai upaya menghadirkan pengalaman yang lebih personal bagi para tamu. Ramadan, menurutnya, bukan hanya tentang apa yang disajikan di atas piring, tetapi juga tentang suasana dan cerita yang menyertainya. Melalui konsep Makna Ramadan, Citadines ingin menjadi tempat di mana tamu dapat merasakan kebersamaan dan kehangatan, baik bersama keluarga, sahabat, maupun rekan kerja.

Dari dapur, Head Chef Citadines Antasari Jakarta, Chef Fahri Aziz, meracik menu dengan pendekatan yang serupa guna menjaga keaslian rasa dan kesederhanaan. Hidangan disiapkan menggunakan bahan berkualitas dan teknik memasak yang menghormati tradisi, menghadirkan rasa yang tidak berlebihan, namun membekas. Dalam konteks Ramadan, sajian tersebut menjadi pelengkap momen refleksi, bukan sekadar pemuas selera.

Pengalaman Ramadan di Citadines Antasari Jakarta juga diperluas melalui program Ramadan Delight, paket menginap yang sudah termasuk sahur dan berbuka puasa. Bagi sebagian tamu, menginap selama Ramadan bukan semata soal kenyamanan, melainkan kesempatan untuk menikmati waktu secara lebih utuh dengan bangun lebih awal untuk sahur, beristirahat tanpa tergesa, dan menjalani hari dengan ritme yang lebih seimbang.

Kehadiran program 24 Hours Stay Experience semakin menegaskan pendekatan tersebut. Dengan fleksibilitas waktu check-in hingga pukul 18.00 WIB, Citadines memberi ruang bagi tamu untuk menyesuaikan aktivitas Ramadan mereka tanpa tekanan waktu. Sebuah detail kecil yang justru terasa relevan di bulan yang mengajarkan kesabaran dan keseimbangan.

Di tengah hiruk pikuk kota dan rutinitas yang padat, Ramadan di Citadines Antasari Jakarta hadir sebagai pengingat bahwa makna bulan suci sering kali ditemukan dalam hal-hal sederhana, waktu yang diluangkan, kebersamaan yang dirawat, dan suasana yang memungkinkan kita untuk berhenti sejenak dan kembali pada diri sendiri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *