Navaswara.com – Mengelola keuangan pribadi sering terasa melelahkan. Bukan semata karena penghasilan terbatas, melainkan karena dorongan membandingkan diri dengan orang lain, apalagi di sosial media.
Perbandingan semacam ini kerap terjadi tanpa disadari. Padahal, kondisi keuangan setiap orang berjalan di jalur yang berbeda. Faktor penghasilan, tanggungan keluarga, biaya hidup, hingga latar belakang hidup membuat situasi finansial tak pernah benar-benar bisa disamakan.
Fenomena ‘lomba lari’ finansial ini diam-diam jadi racun, yang membuat banyak orang nekat memaksakan gaya hidup “sultan” demi pengakuan, meski aslinya megap-megap bayar cicilan.
Teori Perbandingan Sosial dan Dampaknya terhadap Keuangan
Fenomena ini sejatinya telah dijelaskan melalui Social Comparison Theory yang dikemukakan oleh Leon Festinger pada tahun 1954. Teori ini menyatakan bahwa manusia memiliki kecenderungan alamiah untuk mengevaluasi diri sendiri dengan membandingkan diri terhadap orang lain, terutama ketika tidak ada standar objektif yang tersedia. Dalam konteks keuangan, perbandingan sosial ini dapat memicu perilaku konsumtif yang tidak sesuai dengan kemampuan finansial seseorang.
Seperti yang diungkapkan oleh Brad Klontz, psikolog keuangan dan Associate Professor di Creighton University, “Perbandingan finansial dengan orang lain adalah salah satu penyebab utama stres keuangan dan keputusan finansial yang buruk. Kita cenderung membandingkan kekurangan kita dengan kelebihan orang lain, yang menciptakan persepsi yang terdistorsi tentang kesuksesan finansial.”
Setiap orang memulai perjalanan keuangannya dari titik awal yang berbeda. Ada yang bekerja tanpa beban keluarga, ada pula yang sejak awal harus menopang kebutuhan orang tua, adik, atau membiayai pendidikan sendiri. Dengan latar yang tak setara, membandingkan capaian keuangan justru sering kehilangan konteks.
Di sisi lain, media sosial ikut memperkuat ilusi keberhasilan finansial. Linimasa dipenuhi potret liburan mewah, kendaraan baru, dan gaya hidup serba nyaman. Namun, publik jarang mengetahui cerita di baliknya. Apakah perjalanan itu hasil tabungan panjang atau fasilitas cicilan? Apakah kendaraan dibeli tunai atau lewat skema kredit jangka panjang? Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini nyaris tak pernah muncul di unggahan.
Akibatnya, membandingkan kondisi keuangan dengan apa yang terlihat di media sosial kerap memicu rasa tidak cukup, stres, hingga keputusan keuangan yang tergesa-gesa. Dorongan mengikuti standar orang lain bisa berujung pada pengeluaran di luar kemampuan.
Daripada bertanya kapan bisa menyamai orang lain, pertanyaan yang lebih relevan justru sederhana, apakah kondisi keuangan hari ini lebih baik dibandingkan sebelumnya? Kemajuan kecil, seperti mulai menyisihkan tabungan, mengurangi utang, atau lebih disiplin mencatat pengeluaran, tetap punya arti besar dalam jangka panjang.
Agar pengelolaan keuangan terasa lebih sehat, fokus perlu dikembalikan pada kebutuhan sendiri. Menetapkan tujuan yang jelas, seperti dana darurat, pendidikan, rumah, atau masa pensiun, membantu menjaga arah. Rencana keuangan pun sebaiknya disusun sesuai kemampuan, bukan meniru gaya hidup orang lain.
Mengenali gaya hidup yang paling memberi rasa tenang juga penting. Hidup sederhana bukan kekurangan, melainkan pilihan. Begitu pula soal pendapatan, membandingkan nominalnya jarang memberi manfaat. Yang lebih berguna justru membandingkan kebiasaan mengelola uang dan konsistensinya.
Perlu dipahami bahwa di balik angka-angka tabungan, ada narasi hidup yang tak bisa diseragamkan. Seseorang tidak dianggap gagal hanya karena belum mencapai titik yang diraih rekannya. Hidup bukan tentang siapa yang lebih dulu sampai pada kemewahan, melainkan siapa yang paling mampu bertahan dengan pondasi yang sehat. Karena pada dasarnya, setiap orang sedang menempuh rutenya masing-masing, dengan beban dan waktu tempuh yang memang tidak untuk dibandingkan
