Navaswara.com – Deretan tanaman cabai, sayuran, dan aneka tanaman pangan yang tumbuh di pekarangan rumah menjadi gambaran sederhana tentang ketahanan keluarga yang dibangun dari lingkungan terdekat. Di tengah tantangan ekonomi yang masih dirasakan banyak rumah tangga, langkah kecil memanfaatkan lahan sekitar rumah dinilai dapat menjadi solusi nyata untuk mengurangi pengeluaran sekaligus membuka peluang usaha baru bagi perempuan.
Pesan itulah yang disampaikan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi, saat menghadiri Sosialisasi Pemanfaatan Pekarangan Rumah (Mustika Darling) dan Penyerahan Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Sayang Bunda dengan BPJS Kesehatan Kota Tasikmalaya, Jumat (19/6/2026).
Menteri PPPA mengajak perempuan Indonesia untuk mengoptimalkan pemanfaatan pekarangan rumah sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan keluarga sekaligus mendorong kemandirian ekonomi rumah tangga.
“Ayo manfaatkan pekarangan yang ada di sekitar kita untuk menghemat pengeluaran keluarga. Salah satunya dengan menanam kebutuhan dapur sendiri, seperti cabai. Jika perempuan mampu memenuhi kebutuhan dapurnya secara mandiri dari lingkungan sekitar, ini menjadi potensi yang luar biasa bagi ketahanan keluarga,” ujar Arifah Fauzi.
Menurutnya, pemanfaatan lahan pekarangan menjadi langkah strategis dalam menghadapi tekanan ekonomi karena mampu menekan biaya kebutuhan rumah tangga sehari-hari. Selain memberikan manfaat ekonomi, aktivitas bercocok tanam juga berkontribusi terhadap pelestarian lingkungan.
Menteri PPPA menilai kegiatan menanam memiliki nilai sosial dan spiritual yang tidak kalah penting. Tanaman yang tumbuh di sekitar rumah tidak hanya menghasilkan bahan pangan, tetapi juga membantu menjaga kualitas lingkungan.
“Ini adalah bentuk sedekah oksigen yang pahalanya luar biasa. Ketika para ibu menanam di pekarangan rumah masing-masing, esensinya kita mendapatkan manfaat untuk dunia sekaligus investasi untuk akhirat,” katanya.
Selain menyoroti isu ketahanan pangan, Arifah juga mengingatkan pentingnya kewaspadaan terhadap berbagai bentuk kekerasan terhadap perempuan dan anak yang masih menjadi tantangan serius di masyarakat.
Ia menegaskan bahwa keluarga memiliki peran sentral dalam menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman bagi perempuan maupun anak-anak.
“Saat ini tantangan kita semakin berat karena kekerasan, baik fisik, emosional, maupun seksual berada sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Banyak korban kekerasan yang pelakunya justru berada di dalam rumah kita sendiri. Oleh karena itu, sinergi dan peran aktif perempuan dalam menjaga keluarga serta melindungi anak-anak menjadi kunci utama,” tegasnya.
Senada dengan Menteri PPPA, Wali Kota Tasikmalaya Viman Alfarizi Ramadhan menilai pemanfaatan pekarangan rumah dapat memberikan dampak ekonomi yang signifikan bagi keluarga. Menurutnya, kebutuhan sederhana seperti cabai yang setiap hari dibeli masyarakat dapat dipenuhi secara mandiri melalui kegiatan bertanam.
“Konsumsi cabai per rumah tangga bisa mencapai Rp3.000 per hari. Angka ini dapat ditekan jika para perempuan memanfaatkan pekarangan untuk menanam cabai dan kebutuhan lainnya. Langkah ini tidak hanya menghemat anggaran belanja, tetapi juga membuka peluang bagi ibu-ibu untuk berwirausaha dan menjadi lebih berdaya,” ujar Viman.
Ia menambahkan, aktivitas bercocok tanam bersama keluarga juga dapat menjadi sarana pendidikan karakter bagi anak-anak. Melalui kegiatan tersebut, orang tua dapat lebih mudah menanamkan nilai tanggung jawab, kepedulian lingkungan, serta memperkuat hubungan emosional dalam keluarga.
“Dalam proses ini, kita juga belajar untuk memprioritaskan pemenuhan hak dasar anak yang sering kali terabaikan. Setidaknya ada tiga hak dasar anak yang harus dipastikan pemenuhannya di tingkat keluarga, yaitu hak untuk didengarkan pendapatnya, hak untuk mendapatkan kasih sayang, dan hak untuk mendapatkan pendidikan yang layak,” tuturnya.
Pada kesempatan yang sama, dilakukan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama antara BPJS Kesehatan Cabang Tasikmalaya dan RSIA Sayang Bunda yang dikelola Yayasan Muslimat Nahdlatul Ulama (NU).
Kepala BPJS Kesehatan Cabang Tasikmalaya, KGS Hamdani, menjelaskan kerja sama tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas akses layanan kesehatan bagi masyarakat di wilayah Priangan Timur.
“RSIA Sayang Bunda merupakan rumah sakit ke-30 yang menjalin kerja sama dengan kami. Saat ini BPJS Kesehatan Cabang Tasikmalaya yang membawahi Kabupaten Garut, Kota Tasikmalaya, dan Kabupaten Tasikmalaya telah bermitra dengan 30 rumah sakit dan 321 fasilitas kesehatan tingkat pertama. Langkah ini menjadi bagian dari komitmen kami dalam mendekatkan dan menyiapkan akses layanan kesehatan yang bermutu bagi seluruh peserta,” kata Hamdani.
Program pemanfaatan pekarangan rumah yang didorong pemerintah tidak hanya berbicara soal menanam tanaman pangan. Lebih dari itu, gerakan ini menjadi bagian dari upaya membangun keluarga yang tangguh secara ekonomi, sehat secara sosial, dan kuat dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan. Dari lahan sederhana di sekitar rumah, lahir harapan baru bagi kesejahteraan keluarga dan pemberdayaan perempuan Indonesia.
