Navaswara — Di tengah hiruk pikuk pameran wewangian, sejumlah pengunjung tampak membawa botol parfum kosong. Bukan untuk dibuang, melainkan untuk ditukar menjadi pengalaman baru. Dari ruang inilah pesan keberlanjutan disampaikan secara sederhana, dekat, dan membumi.
Melalui inisiatif Mandiri Looping for Life (MLFL), Bank Mandiri menghadirkan Circular Fragrance Experience dalam gelaran Perfume Pop Market 2026 yang berlangsung pada 30 Januari hingga 2 Februari 2026. Program ini menjadi bagian dari komitmen perusahaan dalam mendorong praktik ekonomi sirkular, sekaligus menghubungkan isu keberlanjutan dengan gaya hidup masyarakat urban.
Circular Fragrance Experience mengajak pengunjung berpartisipasi langsung melalui berbagai aktivitas berbasis daur ulang. Pengunjung dapat menukarkan botol parfum kosong untuk mengikuti rangkaian kegiatan, mulai dari mengenal proses pembuatan parfum, mempersonalisasi aroma sesuai karakter, hingga membuat aksesori dari material hasil daur ulang.
Tak hanya itu, pengunjung juga berkesempatan memperoleh parfum gratis dengan ketentuan tertentu, sebagai bentuk apresiasi atas partisipasi aktif dalam praktik konsumsi bijak.
Corporate Secretary Bank Mandiri Adhika Vista mengatakan, kehadiran Mandiri Looping for Life di Perfume Pop Market menegaskan komitmen perusahaan dalam memperluas implementasi ekonomi sirkular yang melibatkan publik secara langsung.
“Melalui Mandiri Looping for Life, kami terus mengembangkan berbagai aktivitas yang mendorong penerapan ekonomi sirkular secara nyata, sekaligus membuka ruang kolaborasi dengan komunitas dan pelaku industri kreatif agar keberlanjutan dapat menjadi bagian dari gaya hidup sehari-hari,” ujar Adhika dalam keterangan resminya, Jumat (30/1).
Menurutnya, keberlanjutan tidak dapat dibangun hanya melalui kebijakan korporasi, tetapi perlu dihadirkan dalam aktivitas yang mudah dipahami dan relevan dengan keseharian masyarakat.
Pendekatan tersebut tercermin dalam konsep Circular Fragrance Experience yang dirancang sebagai pengalaman interaktif. Melalui medium parfum yang lekat dengan identitas personal dan gaya hidup isu ekonomi sirkular diperkenalkan dengan cara yang lebih emosional dan partisipatif.
Adhika menilai, keterlibatan masyarakat dalam aktivitas sederhana seperti mengelola kemasan bekas dapat menjadi pintu masuk perubahan perilaku yang lebih luas.
“Melalui pendekatan yang relevan dengan lifestyle urban, program ini menghubungkan isu keberlanjutan dengan pengalaman kreatif dan interaktif yang dekat dengan keseharian masyarakat,” katanya.
Lebih jauh, program ini juga membuka ruang kolaborasi dengan pelaku industri kreatif dan UMKM berbasis gaya hidup. Kehadiran ekonomi sirkular di sektor kreatif dinilai mampu menciptakan nilai tambah baru, sekaligus memperkuat daya saing UMKM yang mulai mengadopsi prinsip ramah lingkungan.
Perfume Pop Market 2026 sendiri menjadi ajang pertemuan antara komunitas, pelaku usaha kreatif, dan masyarakat umum. Momentum ini dimanfaatkan Bank Mandiri untuk mendorong lahirnya ekosistem ekonomi kreatif yang tidak hanya berorientasi pada tren, tetapi juga pada keberlanjutan jangka panjang.
Ke depan, Bank Mandiri menegaskan akan terus mengembangkan berbagai inisiatif keberlanjutan yang adaptif terhadap perubahan gaya hidup masyarakat, serta memperluas kolaborasi lintas sektor guna mempercepat penerapan ekonomi sirkular di Indonesia.
“Kami mengajak masyarakat untuk berpartisipasi aktif dan memulai langkah sederhana melalui Circular Fragrance Experience, sebagai bagian dari upaya bersama membangun praktik keberlanjutan yang berdampak,” pungkas Adhika.

