Sinema Inklusi Nusantara Buka Akses Kerja Film bagi Difabel

Navaswara.com – Di tempat kerja pada umumnya, pola aktivitas masih diseragamkan. Jam, target, dan struktur yang sama dipakai untuk semua orang. Bagi sebagian, pola ini terasa aman. Namun, bagi para penyandang disabilitas, pola yang sama justru sering menutup ruang berkembang. Dari situlah, Yayasan Happyself Harmony Family memperkenalkan Sinema Inklusi Nusantara, sebuah program yang membuka akses kerja di perfilman dengan cara pandang berbeda terhadap cara kerja otak.

Program ini berangkat dari pemahaman neuroscience bahwa sensitivitas emosi, cara otak memproses rangsangan, dan perubahan suasana hati bukan hal yang harus ditekan. Dalam kerja kreatif, faktor-faktor ini sering menjadi sumber ide dan kepekaan bercerita. Namun ketika ditempatkan dalam sistem kerja yang kaku, potensi tersebut kerap tidak terbaca sebagai nilai.

Data Badan Pusat Statistik tahun 2024 mencatat 932.435 penyandang disabilitas telah bekerja, naik sekitar 22 persen dari tahun sebelumnya. Meski bergerak positif, proporsinya masih kecil, hanya 0,64 persen dari total tenaga kerja nasional. Angka ini memperlihatkan bahwa persoalan tidak berhenti pada kesiapan individu, tetapi juga pada sejauh mana sistem kerja membuka ruang yang sesuai.

“Neuroscience menunjukkan bahwa tidak semua otak bekerja dengan pola yang sama. Banyak individu, termasuk penyandang disabilitas, lebih responsif terhadap emosi dan kreativitas. Jika lingkungannya tepat, perbedaan ini justru menjadi kekuatan,” ujar Ketua Yayasan Happyself Harmony Family, Prisca Priscilla.

Lewat Sinema Inklusi Nusantara, difabel dilibatkan secara profesional dalam berbagai proses perfilman, dari pengembangan ide, penulisan naskah, produksi, hingga penyuntingan dan distribusi. Model kerja berbasis proyek dan kolaborasi dipilih agar proses dapat menyesuaikan kondisi individu, bukan memaksakan satu pola untuk semua.

Pendekatan ini sejalan dengan pandangan World Health Organization yang menyebut disabilitas sebagai hasil interaksi antara kondisi individu dan lingkungannya. Ketika lingkungan dirancang lebih adaptif, hambatan dapat ditekan dan ruang untuk berkembang menjadi lebih terbuka.

Di luar soal ekspresi kreatif, program ini diarahkan sebagai jalur kemandirian ekonomi. Film diposisikan sebagai ruang kerja yang nyata. Dari proses ini, peserta diharapkan mampu membangun penghasilan berkelanjutan dan memperkuat posisi mereka di dalam keluarga.

“Ketika penyandang disabilitas diberi ruang bekerja sesuai cara kerja otaknya, yang lahir bukan hanya karya, tetapi juga rasa percaya diri dan kemandirian,” tambah perwakilan yayasan.

Melalui Sinema Inklusi Nusantara, Yayasan Happyself Harmony Family menegaskan bahwa inklusi dibangun lewat sistem kerja yang memahami perbedaan, serta memberi kesempatan setara untuk berdaya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *