Navaswara.com – Pernahkah Anda mendengar anak sekolah atau remaja di media sosial tiba-tiba mengucapkan “67” atau “six-seven” sambil tertawa, padahal tak ada hal lucu yang sedang terjadi? Jika reaksi pertamamu adalah mengernyitkan dahi dan bertanya-tanya apa maksudnya, tenang saja, Anda tidak sendirian.
Internet kembali menghadirkan satu istilah yang sukses membuat banyak orang dewasa merasa tertinggal zaman. Setelah era “skibidi”, “rizz”, dan berbagai slang aneh lainnya, kini giliran angka “67” yang naik panggung sebagai bahasa gaul baru Generasi Alpha dan Gen Z usia belia. Bukan kata, bukan kalimat, hanya dua digit angka yang entah bagaimana bisa memancing tawa.
Sekilas, “67” memang tidak lebih dari angka biasa. Namun di dunia digital, angka ini telah berevolusi menjadi simbol humor absurd, semacam inside joke kolektif yang hanya bisa dipahami oleh mereka yang berada di frekuensi yang sama. Menariknya, ketika ditanya apa arti “six-seven”, jawabannya hampir selalu mengecewakan pencari makna. Tidak ada definisi baku. Tidak ada maksud khusus. Justru di situlah letak “leluconnya”.
Bagi para penggunanya, “67” kerap muncul sebagai respons acak dalam percakapan. Angka ini bisa menjadi jawaban iseng saat seseorang bingung, reaksi netral ketika tak tahu harus menanggapi apa, atau sekadar penanda bahwa otak sedang “mati gaya”.
Para pengamat budaya digital menyebut fenomena ini sebagai bagian dari brainrot slang, jenis kosakata yang sengaja dibuat absurd, mudah diulang, dan tidak perlu dipikirkan terlalu jauh. Lucu atau tidaknya bukan terletak pada katanya, melainkan pada reaksi orang yang mendengarnya.
Asal-usul “67” sendiri berangkat dari dunia musik dan media sosial. Tren ini ditelusuri dari lagu berjudul “Doot Doot (6 7)” milik rapper Skrilla yang dirilis pada Desember 2024. Potongan audionya kemudian ramai digunakan di TikTok, lengkap dengan gestur tangan khas seolah sedang menimbang dua pilihan. Dari sana, angka “67” mulai hidup di luar konteks lagu.
Popularitasnya kian melesat ketika netizen mengaitkannya dengan bintang NBA, LaMelo Ball, yang memiliki tinggi badan enam kaki tujuh inci. Tak lama berselang, muncul sosok viral yang dijuluki “The 67 Kid”, seorang anak yang videonya tersebar luas saat pertandingan basket. Kombinasi antara musik, olahraga, dan algoritma media sosial membuat “67” melompat dari layar ponsel ke ruang kelas dan percakapan sehari-hari.
Fenomena ini tak lagi bisa dianggap sepele ketika dunia leksikografi ikut angkat bicara. Dictionary.com secara resmi menobatkan “67” sebagai Word of the Year 2025. Alasannya sederhana sekaligus mencerminkan zaman, istilah ini dianggap paling merepresentasikan cara generasi muda berkomunikasi hari ini, cepat, acak, absurd, dan tidak selalu logis.
Dampaknya bahkan terasa di dunia nyata. Di Amerika Serikat, sejumlah restoran dilaporkan menghapus nomor antrean 67 dari sistem mereka. Setiap kali angka itu dipanggil, pengunjung justru bersorak, tertawa, dan menciptakan kegaduhan yang tak terduga. Sebuah angka sederhana berubah menjadi pemicu euforia kolektif.
Pada akhirnya, “67” menjadi potret kecil tentang bagaimana bahasa terus berevolusi mengikuti zaman. Bagi Gen Alpha, komunikasi tidak selalu harus masuk akal atau penuh makna. Terkadang, cukup satu angka untuk menandai kebersamaan, membangun humor, dan mengatakan, “kalau kamu paham, kita satu kubu.”
