Badak Bercula Satu, “Tank Baja” dari Alam yang Pernah Nyaris Punah dan Kini Jadi Harapan

Navaswara.com – Dunia satwa liar tak pernah kekurangan kisah dramatis. Ada cerita tentang kepunahan, tetapi juga tentang harapan yang lahir dari ketekunan manusia menjaga alam. Salah satunya datang dari Badak Bercula Satu atau Badak India (Rhinoceros unicornis), mamalia darat raksasa yang pernah nyaris hilang dari muka bumi.

Awal abad ke-20 menjadi masa paling kelam bagi spesies ini. Perburuan dan penyusutan habitat membuat populasinya anjlok drastis, menyisakan sekitar 200 ekor saja di alam liar. Pada titik itu, banyak yang meyakini badak bercula satu tinggal menunggu waktu menuju kepunahan.

Namun sejarah bergerak ke arah berbeda. Perlindungan ketat yang diterapkan pemerintah India dan Nepal perlahan membuahkan hasil. Kini, badak bercula satu justru menjadi simbol keberhasilan konservasi. Populasinya melonjak hingga sekitar 4.000 ekor, tersebar di kawasan timur laut India dan padang rumput Terai di Nepal.

Melihat badak ini dari dekat, mudah memahami mengapa ia dijuluki “tank baja” dari alam. Tubuhnya masif, dibalut kulit cokelat keabu-abuan dengan lipatan tebal yang menyerupai zirah perang. Satu cula hitam mencuat kokoh dari hidungnya, dengan panjang mencapai 20 hingga 60 sentimeter, menjadi identitas sekaligus simbol kekuatannya.

Meski tampil garang, Badak India sejatinya bukan petarung. Mereka dikenal sebagai hewan penyendiri yang lebih suka menghabiskan waktu sendirian. Interaksi dengan sesamanya biasanya hanya terjadi saat berendam di kubangan air atau ketika mencari makan di area yang sama.

Sebagai herbivora, menu harian badak ini sederhana namun melimpah. Rumput, dedaunan, ranting, buah-buahan, hingga tanaman air menjadi sumber energi bagi tubuh raksasanya. Dalam ekosistem, perannya tak bisa dianggap remeh. Dengan ukuran tubuh dan pola makannya, badak membantu mengontrol pertumbuhan vegetasi dan menjaga keseimbangan alam.

Kisah sukses Badak India tak pelak mengingatkan kita pada “saudara dekatnya” yang hidup di Indonesia, Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus). Sama-sama bercula satu, tetapi nasib keduanya kini bertolak belakang.

Pakar konservasi dari IPB University Prof Harini Muntasib menjelaskan bahwa Badak Jawa merupakan salah satu satwa purba yang masih bertahan hingga hari ini. Dahulu, persebarannya sangat luas, membentang dari India, Myanmar, Thailand, hingga Vietnam. Kini, habitat itu menyusut drastis.

“Saat ini, Badak Jawa hanya tersisa di satu tempat di dunia, yaitu Taman Nasional Ujung Kulon di Banten,” ujar Prof Harini dalam wawancara bersama reporter IPB University.

Fakta tersebut menjadikan Indonesia sebagai pemegang tanggung jawab tunggal atas kelangsungan hidup spesies ini. Sebuah kebanggaan, sekaligus beban besar.

Berbeda dengan Badak India yang populasinya sudah ribuan, jumlah Badak Jawa justru berada di titik mengkhawatirkan. Data terbaru dari Balai Taman Nasional Ujung Kulon menunjukkan populasinya hanya berkisar antara 87 hingga 100 ekor.

Angka itu menempatkan Badak Jawa dalam status critically endangered atau terancam punah menurut daftar merah IUCN. Perdagangan dan perburuan badak ini pun sepenuhnya dilarang di bawah regulasi internasional CITES.

Berbagai upaya terus dilakukan untuk mencegah skenario terburuk. Salah satunya adalah pengembangan Javan Rhino Study and Conservation Area (JRSCA) seluas sekitar 5.100 hektare di kawasan selatan Gunung Honje. Area ini diproyeksikan sebagai lokasi pengembangbiakan intensif sekaligus perluasan habitat, agar populasi Badak Jawa tidak terkonsentrasi di satu wilayah saja.

Namun, tantangan yang dihadapi tidak sederhana. Prof Harini menyoroti ancaman internal seperti risiko perkawinan sedarah akibat populasi yang terlalu kecil, serta invasi tumbuhan langkap yang mengganggu kualitas habitat. Ancaman eksternal pun terus mengintai, mulai dari perburuan liar, potensi penularan penyakit dari hewan ternak, hingga bencana alam seperti tsunami dan aktivitas vulkanik Gunung Krakatau.

“Badak Jawa bukan hanya kekayaan hayati Indonesia, tetapi juga warisan dunia yang harus dijaga bersama,” kata Prof Harini.

Kisah Badak India membuktikan bahwa kepunahan bukanlah takdir yang tak bisa diubah. Dengan niat melestarikan yang kuat, perlindungan hukum, dan pengelolaan habitat yang serius, spesies yang hampir hilang bisa kembali bangkit.

Kini, pertanyaannya mengarah pada kita semua. Jika India dan Nepal mampu menyelamatkan badaknya dari ambang kepunahan, mampukah Indonesia melakukan hal serupa demi memastikan Badak Jawa tidak hanya hidup dalam buku sejarah?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *