Dalang Cilik Jakarta Ramaikan Hari Wayang Nasional 2025

Navaswara.com – Selama dua hari, 21–22 November 2025, Griya Puspatarini di Cilandak seolah kembali ke masa keemasan wayang. Pepadi Jakarta Selatan merayakan Hari Wayang Nasional ke-7 lewat pementasan wayang kulit yang menampilkan dalang senior hingga talenta-talenta cilik yang mencuri perhatian.

Meski berada jauh dari tanah kelahiran kesenian Jawa, ratusan penonton dari Jakarta, Tangerang, dan Depok memadati area pertunjukan. “Jarang-jarang bisa nonton wayang kulit di Jakarta,” kata Diyon, warga asli Wonogiri yang kini tinggal di Tangerang. Ia datang bersama istri dan anaknya, memanfaatkan kesempatan langka di kota besar yang tak banyak menyediakan ruang untuk pementasan tradisional.

Dari sederet nama yang tampil, sosok yang mencuri perhatian malam itu adalah Oseano Janardhana, 12 tahun. Murid Sanggar Gemah Win’s Production ini membawakan lakon Gatotkaca Jedhi—kisah heroik sang ksatria yang digembleng para dewa di Kawah Candradimuka sebelum menghadapi dua raksasa penghancur dunia.

Bagi Oseano, wayang bukan sekadar hobi. Ia mengenal tokoh-tokoh pewayangan sejak berusia 1,5 tahun. Ketertarikannya muncul spontan saat melihat dekorasi wayang dalam sebuah resepsi pernikahan keluarga. Sejak momen itu, Oseano kecil meminta wayang sebagai mainan dan rajin mencari video serta gambar seputar pewayangan dari gawai orang tuanya.

Usia 5 tahun, ia mulai belajar mendalang. Pandemi sempat membuatnya berhenti, tetapi kini ia kembali berlatih rutin di sanggar. “Saya ingin mengenalkan wayang kulit ke seluruh dunia,” ujarnya penuh keyakinan.

Oseano tak tampil sendirian malam itu. Ada Omar Alkantara, Rakha Triyawibawa, dan Ridho Arya Yudahatama, sesama murid sanggar yang tampil dalam kategori dalang anak dan remaja. Mereka membawakan lakon Anoman Duta, Kangsa Lena, dan Sang Rajamala.

Yang menarik, keempatnya lahir dan besar di Jakarta, generasi yang tumbuh bersama gadget dan budaya pop global. Namun wayang kulit tetap menjadi cinta pertamanya. Fenomena yang jarang ditemui di kota besar dan justru menjadi harapan baru bagi pelestarian budaya Jawa di tengah derasnya pengaruh budaya luar.

Pementasan ini bukan hanya perayaan Hari Wayang Nasional, tapi juga pengingat bahwa tradisi hanya bisa bertahan jika ada generasi yang mau meneruskan. Anak-anak seperti Oseano, Omar, Rakha, dan Ridho memperlihatkan bahwa wayang kulit masih memiliki ruang di hati anak-anak kota.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *