Navaswara.com – Banyak orang menyadari bahwa ketika diminta mengingat kejadian sebelum usia empat tahun, hampir tak ada memori yang benar-benar bisa dipanggil kembali. Pada masa balita, kita sebenarnya mengalami begitu banyak hal baru setiap hari dan dipenuhi pengalaman penting yang ikut membentuk siapa diri kita.
Dalam hal ini, memori seperti suara tawa orang dewasa di sekitar kita, langkah kecil yang dulu membuat semua orang berseru bangga, atau suasana ulang tahun pertama yang mungkin penuh warna, sering kali hanya terdengar samar. Akibatnya, kita kesulitan mengingat apa pun dari masa itu, dan perasaan bingung ini ternyata dialami banyak orang. Fenomena tersebut bukan muncul karena momen-momen itu kurang berarti, melainkan karena otak manusia memiliki fase alami bernama childhood amnesia atau amnesia masa kanak-kanak.
Fenomena ini membuat orang dewasa tidak mampu mengingat peristiwa spesifik dari usia sangat dini, terutama sebelum 3-4 tahun. Banyak balita sebenarnya menyimpan memori jangka pendek, tetapi seiring waktu ingatan tersebut memudar hingga terasa seperti tidak pernah ada. Penelitian prospektif oleh C. Peterson tahun 2018 yang mengikuti 37 anak usia 4-9 tahun selama delapan tahun memperlihatkan bagaimana ingatan awal yang sempat terbentuk tetap mengalami penurunan drastis, meskipun narasi yang koheren sempat membantu anak mempertahankan memori itu untuk sementara.
Di sisi lain, studi ML Howe tahun 2022 berjudul Early Childhood Memories Are Not Repressed menunjukkan memori dini bukan ditekan atau disembunyikan, tetapi gagal terbentuk dengan kuat atau cepat hilang selama masa perkembangan.
Otak Balita Belum Siap Menyimpan Kenangan Permanen
Akar dari childhood amnesia berada pada perkembangan otak yang masih berlangsung. Hippocampus dan amigdala, dua bagian penting dari sistem limbik yang bertugas mengatur pembentukan dan pengambilan kembali memori episodik, belum matang pada anak di bawah usia tiga tahun. Tanpa struktur yang stabil, memori sulit bertahan lama seperti halnya pada orang dewasa.

Keterbatasan bahasa juga memengaruhi kemampuan menyimpan memori. Anak kecil belum bisa mengubah pengalaman menjadi cerita yang jelas, sehingga memori tidak memiliki “penanda” yang memudahkan untuk diambil kembali suatu hari nanti. Ibarat menyimpan foto tanpa album, momen itu tersimpan sesaat lalu terserak begitu saja.
Penelitian hewan turut mendukung gambaran ini. Memori awal sebenarnya terbentuk, tetapi sistem pencarian kembali memori tersebut tidak mengikuti perkembangan yang sama cepatnya. Akibatnya, kenangan itu tetap ada di suatu tempat, hanya tidak lagi bisa dijangkau saat kita dewasa.
Kapan Ingatan Mulai Bertahan Lama?
Ingatan mulai tersimpan lebih stabil setelah usia empat tahun. Pada fase ini hippocampus berkembang pesat, sementara kemampuan berbahasa juga mulai menguat sehingga anak lebih mampu merangkai pengalaman menjadi cerita yang utuh. Meski begitu, ingatan usia dini tetap sering pudar hingga sekitar usia enam atau tujuh tahun. Seiring beranjak remaja, memori masa kecil yang lebih tua cenderung lebih solid, sementara bagian yang terlalu awal tetap kabur atau hilang seluruhnya.
Childhood amnesia bukan gangguan, kelemahan, ataupun tanda ada sesuatu yang salah. Fenomena ini adalah bagian alami dari perkembangan otak manusia. Hampir semua orang mengalaminya, dan justru menunjukkan bahwa otak sedang melalui fase pematangan yang penting untuk masa depan.
Walaupun kenangan masa balita tidak bertahan, pengalaman tersebut tetap memberi jejak. Ada bagian dari diri kita saat ini yang dibentuk oleh momen-momen kecil yang tak lagi bisa kita ingat. Bahkan jika memorinya hilang, pengaruhnya tetap tinggal dalam cara kita merasakan dunia, membangun kepercayaan, dan tumbuh sebagai individu.

