Beda dengan Insomnia, Parasomnia Gangguan Tidur yang Sering Dianggap Sepele

Navaswara.com – Gangguan tidur tidak selalu muncul dalam bentuk susah tidur atau sering terbangun. Ada juga situasi ketika tubuh bereaksi seolah terjadi sesuatu padahal seseorang masih berada dalam tidur dalam. Bangun mendadak sambil kebingungan, berjalan tanpa sadar, atau merasa seperti dikejutkan sesuatu yang tidak jelas. Fenomena seperti ini termasuk parasomnia, kondisi yang sering muncul dan bisa mengurangi rasa segar saat bangun pagi.

Banyak orang menjalani hari dengan pola tidur yang tidak teratur karena tekanan pekerjaan, perjalanan panjang, atau stres yang sulit diringankan. Dalam kondisi seperti ini, tubuh sebenarnya memberi sinyal lewat berbagai respons malam hari yang kerap dianggap sekadar mimpi buruk. Salah satunya adalah parasomnia, kondisi ketika otak tidak sepenuhnya tidur maupun bangun sehingga perilaku aneh bisa muncul tanpa disadari. Fenomena ini membuat seseorang terlihat aktif, tetapi kesadarannya belum pulih sepenuhnya.

Parasomnia muncul ketika bagian tertentu dari otak masih “terjaga”, sementara bagian yang mengatur logika dan memori masih berada dalam tidur dalam. Itulah sebabnya tubuh dapat bergerak atau merespons sesuatu yang sebenarnya tidak ada. Pada beberapa orang, bentuknya muncul sebagai teror tidur, yaitu episode saat seseorang mendadak berteriak atau menunjukkan kepanikan intens tidak lama setelah mereka tertidur.

Meskipun mata terlihat terbuka, mereka sebenarnya masih berada dalam fase tidur dalam sehingga sulit diajak berkomunikasi. Setelah terbangun pun biasanya tidak ada ingatan jelas, hanya jejak rasa takut yang samar.

Ada juga kondisi kebingungan saat terbangun yang membuat seseorang tampak seperti berjalan atau berbicara dalam kondisi autopilot. Kesadaran belum sepenuhnya kembali sehingga waktu dan tempat terasa kabur. Respons yang lambat sering membuat orang sekitar mengira ini hanya efek kelelahan, padahal otak sedang berusaha keluar dari fase tidur dalam tanpa berhasil menyadari lingkungan secara penuh. Episode ini bisa berlangsung singkat atau memanjang, bergantung pada seberapa berat beban tubuh sebelum tidur.

Situasi tersebut sering dipicu oleh kurang tidur yang menumpuk, kelelahan ekstrem, stres berkepanjangan, atau jadwal tidur yang berubah-ubah. Pada beberapa kasus, demam atau sakit turut mengacaukan ritme tidur sehingga otak tidak bisa mengikuti pola istirahat yang seharusnya. Ada juga faktor obat-obatan yang memengaruhi sistem saraf, termasuk kondisi medis lain seperti sleep apnea yang membuat tidur tidak stabil sepanjang malam.

Banyak orang bertanya apakah parasomnia sama dengan mimpi buruk. Keduanya sebenarnya muncul dari proses yang berbeda. Mimpi buruk terjadi saat fase tidur mimpi, sehingga isi ceritanya biasanya masih diingat dengan jelas ketika bangun. Sebaliknya, teror tidur dan kebingungan saat terbangun muncul pada fase tidur dalam sehingga ingatan jarang tertinggal. Tubuh bereaksi intens, tetapi kesadaran tidak ikut bangun.

Secara umum, parasomnia tidak berbahaya secara medis, hanya saja risiko cedera tetap ada karena tubuh bisa bergerak tanpa kendali penuh. Selain itu, pasangan atau keluarga sering ikut terbangun sehingga kualitas tidur seluruh rumah menurun. Beberapa orang juga merasakan efek kelelahan keesokan hari karena episode yang terjadi sebenarnya mengganggu ritme istirahat, meski tidak selalu disadari.

Kondisi ini sebaiknya diperiksa lebih lanjut jika terjadi berulang beberapa kali dalam seminggu, memicu cedera, atau mengubah mood dan konsentrasi di siang hari. Episode yang baru muncul saat usia dewasa juga perlu diawasi karena bisa terkait gangguan tidur lain yang sebelumnya tidak disadari, terutama jika disertai mendengkur keras atau jeda napas saat tidur.

Untuk mengurangi risiko parasomnia, mulai dengan menata pola tidur yang lebih teratur dan cukup setiap malam, hindari begadang atau menumpuk kelelahan, serta usahakan tidur di lingkungan yang tenang dan nyaman. Mengelola stres dengan teknik relaksasi seperti meditasi atau pernapasan juga membantu menenangkan otak sebelum tidur. Hindari konsumsi kafein jelang malam karena bisa mengganggu siklus tidur dalam. Jika menggunakan obat tertentu atau memiliki gangguan tidur lain, diskusikan dengan dokter agar langkah pencegahan atau penanganan bisa lebih tepat.

Intinya, parasomnia adalah respons otak yang muncul ketika tubuh terlalu lelah untuk menjaga ritme tidurnya sendiri. Dengan pola tidur yang lebih teratur, stres yang dikelola lebih baik, dan perhatian pada sinyal tubuh, banyak orang menemukan bahwa frekuensinya perlahan berkurang. Tidur yang tenang tidak hanya soal durasi, tetapi juga tentang memberi ruang bagi tubuh dan pikiran untuk kembali pulih sepenuhnya.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *