Navaswara.com – Belum lama ini, Tim Navaswara.com melangsungkan wawancara eksklusif dengan Hendra Hidayat, Wali Kota Jakarta Utara. Di ruang kerjanya, Kantor Wali Kota Jakarta Utara, Hendra menyambut kedatangan kami dengan hangat, bahkan menyuguhkan secangkir kopi hitam yang diraciknya sendiri.
Suasana yang terjalin segera menjauh dari kesan formalitas birokrasi, membuka ruang untuk perbincangan yang mengalir lugas. Sebagai pembuka, Hendra menuturkan filosofi yang menjadi dasar kerjanya, masyarakat adalah raja yang harus diutamakan. “Kami adalah pelayan bagi masyarakat,” tegasnya, sebuah pernyataan yang menempatkan birokrasi pada posisi abdi dari kehendak publik.
Nama Hendra kembali mengemuka di peta birokrasi ibu kota setelah dilantik resmi sebagai Wali Kota Administrasi Jakarta Utara oleh Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, pada Rabu, 7 Mei 2025. Penunjukan ini menjadikannya satu dari 59 pejabat eselon II yang dipercaya menempati posisi strategis di lingkungan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta.
Jejak Tiga Dekade di Jakarta
Lahir pada 19 November 1972, Hendra merupakan birokrat kawakan di Pemprov DKI Jakarta. Jejak kariernya dimulai pada tahun 1994 sebagai Staf Kantor Pembangunan Masyarakat Desa. Sejak saat itu, ia terus menapaki jenjang birokrasi, dipercaya mengemban berbagai jabatan yang membentuk pemahamannya tentang tata kelola pemerintahan.
Rekam jejaknya mencakup peran-peran teknis di tingkat kewilayahan, seperti Kepala Seksi Pemerintahan Kecamatan Tambora (2002), Lurah Slipi (2003–2006), dan Wakil Camat Kebon Jeruk. Pengalaman di pusat pemerintahan pun dipegangnya, termasuk Kepala Bagian Protokol di Biro Kepala Daerah dan KLN (2015), serta Kepala Biro Pendidikan Mental dan Spiritual DKI Jakarta (2016–2020). Ia sempat menjadi Wakil Wali Kota Jakarta Utara (sejak 2020) sebelum bergeser sebagai Wakil Wali Kota Jakarta Barat (2023), dan kini kembali dengan mandat pimpinan wilayah.
“Kepuasan terbesar bagi ASN adalah ketika mampu memberikan pelayanan terbaik dan merasakan langsung rasa syukur dari warga,” imbuh Hendra, menegaskan bahwa peran birokrasi adalah memberikan manfaat nyata kepada masyarakat.
Kepemimpinan Inklusif di Wilayah Pesisir
Kembalinya Hendra ke Jakarta Utara disambutnya dengan optimisme. Ia menilai Jakarta Utara, dengan karakteristik pesisir yang multiragam, memerlukan pendekatan kepemimpinan yang spesifik. “Saya menemukan nilai-nilai silaturahmi yang positif dari seluruh warga di Jakarta Utara ini,” ujarnya.
Mandat yang diembannya adalah mewujudkan visi Kota Jakarta Utara sebagai kota pesisir yang maju, lestari, dan berbudaya, sejalan dengan program Gubernur DKI Jakarta dalam mewujudkan Jakarta sebagai “Kota Global dan Berbudaya”. Dalam memimpin, Hendra menekankan gaya silaturahmi dan kekeluargaan untuk membangun kerjasama tim yang kuat dan merangkul semua elemen, termasuk Forkopimko, masyarakat, dan sektor swasta demi menyejahterakan warga.
Keseimbangan dan Kompas Moral
Di tengah padatnya tugas, Hendra Hidayat menjaga keseimbangan hidup (work-life balance). Ia menjadikan kedua orang tuanya sebagai panutan moral; ayah dikenang karena kesabaran dan ketenangan, sementara ibu, seorang guru mengaji, memberikan pelajaran mendalam tentang hidup dan keagamaan.
Ia rutin melakukan panggilan video dengan anak dan cucunya untuk menjaga ikatan keluarga tetap erat. Selain itu, berolahraga tenis dan padel menjadi rutinitas penyeimbang dari tuntutan pekerjaannya.
Sebagai penutup, Hendra menggarisbawahi definisi kesuksesan yang dianutnya, “Sukses adalah bagaimana seseorang bisa bermanfaat bagi orang lain.” Prinsip ini menjadi harapan besarnya untuk Jakarta, menegaskan bahwa terwujudnya kota yang aman, nyaman, kondusif, dan sejahtera hanya dapat dicapai melalui sinergi kolaboratif berkelanjutan antara semua pihak.

