Langkah Bellinda Birton Membawa Harapan Baru untuk Kudus

Navaswara.com – Di Kudus, nama Bellinda Putri Sabrina Birton kini akrab terdengar di tengah masyarakat. Perempuan berusia 26 tahun itu bukan hanya dikenal sebagai dokter muda, tetapi juga sebagai Wakil Bupati Kudus termuda di Indonesia. Pilihannya meninggalkan dunia medis untuk terjun ke pemerintahan mungkin terdengar berisiko, namun bagi Bellinda, itu adalah cara paling nyata untuk melayani lebih banyak orang.

Lahir di Jepara pada 6 September 1999 dan besar di Kudus, Bellinda tumbuh dengan pendidikan yang tertata. Dari SD 3 Demaan hingga SMA Negeri 1 Kudus, ia dikenal tekun dan aktif di berbagai kegiatan sosial. Di balik langkah-langkah yang tampak terencana itu, ia menyimpan keresahan yang sederhana: mengapa masih banyak anak kekurangan gizi, ibu kesulitan mengakses layanan kesehatan, dan fasilitas publik belum merata?

Sebagai dokter, ia sering berhadapan langsung dengan pasien yang sakit karena persoalan sosial dan ekonomi. Dari situ Bellinda mulai memahami bahwa penyembuhan tidak cukup berhenti di ruang praktik. “Saya ingin membantu dari hulunya, bukan hanya dari hilir,” ujarnya suatu kali. Pandangan itu akhirnya menuntunnya pada keputusan besar, masuk ke dunia politik daerah.

Pada 20 Februari 2025, Bellinda resmi dilantik sebagai Wakil Bupati Kudus mendampingi Sam’ani Intakoris. Usianya yang muda sempat memicu keraguan, bahkan serangan di media sosial. Namun ia memilih menjawab dengan kerja konkret. “Sanajan aku cah cilik tapi aku ra bakal ngapusi wong cilik,” menjadi slogan yang ia pegang teguh, bukan sekadar janji kampanye.

Melalui visi Kudus Sehat, Bellinda menggerakkan tiga fokus utama: memperkuat layanan kesehatan dasar dan menurunkan angka stunting, memperbaiki infrastruktur publik yang rusak, serta meningkatkan kesejahteraan sosial lewat pendidikan dan ekonomi kreatif. Dalam tiga bulan pertama, lebih dari 2.500 titik jalan dan ribuan lampu penerangan diperbaiki, disertai kampanye pemilahan sampah rumah tangga untuk mengatasi persoalan lingkungan.

Pendekatannya cenderung personal dan langsung. Ia hadir di tengah warga, mengikuti pengajian, meninjau lokasi pembangunan, dan berbincang tanpa jarak. Gaya kepemimpinannya sederhana namun tegas, menuntut hasil nyata, bukan laporan rapat semata.

Kritik tentu datang, tetapi Bellinda menanggapinya dengan tenang. Ia terbuka terhadap masukan, bahkan menjadikan roasting publik sebagai bahan refleksi. “Kalau ingin dipercaya, harus siap dikritik,” katanya.

Sebagai dokter, Bellinda merasakan kepuasan ketika pasiennya pulih. Tetapi ia juga melihat pola yang sama berulang, yakni masalah kesehatan yang sebenarnya berakar pada sistem, bukan sekadar penyakit individu. “Jadi saya pikir kalau dokter cuman bantu orang sakit. Saya pengin mengabdi ke masyarakat lebih luas, tidak hanya di rumah sakit,” ujarnya. Stunting pada anak-anak, ibu hamil yang kekurangan nutrisi, infrastruktur kesehatan yang timpang. Semua itu membutuhkan solusi yang lebih besar dari sekadar resep obat.

Sebagai pemimpin muda, Bellinda menempatkan pengabdian sebagai inti dari perannya. Latar belakang medisnya membantu ia memahami persoalan masyarakat dengan pendekatan yang lebih empatik dan berbasis data. Menjadi wakil bupati bukan hanya jabatan baginya, melainkan juga tanggung jawab untuk memastikan setiap kebijakan benar-benar berdampak pada kehidupan warga Kudus.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *