Navaswara.com – Pameran seni bertajuk “Gallery of Art: Wianta & Legacy” menghadirkan pengalaman artistik yang menyatukan ruang, spiritualitas, dan warisan pemikiran seorang maestro Bali, Made Wianta. Berlokasi di The ApurvFotoa Kempinski Bali, pameran ini menegaskan komitmen galeri dalam merawat jejak kreatif mendiang Made Wianta sekaligus memperkenalkannya kembali kepada generasi baru penikmat seni.
Tema “Mandala” merupakan sebuah konsep yang berakar pada simbol kosmologis yang melambangkan jagat raya, keseimbangan, dan keteraturan alam semesta. Dalam tafsir Wianta, mandala tidak berhenti sebagai simbol religius atau ornamen spiritual, melainkan berkembang menjadi eksplorasi visual yang dinamis.
Ia sukses mengolah lingkaran, garis, bidang geometris, serta komposisi warna yang berlapis-lapis untuk menggambarkan harmoni antara makrokosmos dan mikrokosmos. Mandala dalam karya-karya ini menjadi refleksi perjalanan batin manusia, sebuah peta spiritual yang mengajak penonton merenungkan posisi dirinya di tengah semesta yang terus bergerak.
Pameran ini menampilkan 11 karya dari seri Mandala, menghadirkan satu rangkaian utuh yang memperlihatkan konsistensi sekaligus eksplorasi sang seniman. Setiap karya memiliki karakter visual yang khas, namun tetap terikat oleh satu benang merah berupa struktur kosmis dan ritme geometris. Selain Made Wianta sebagai sosok utama, pameran ini juga menjadi bagian dari upaya keluarga dan pengelola galeri dalam menjaga serta meneruskan warisan artistiknya.
Salah satu karya yang mencuri perhatian adalah “Mandala Harmoni Semesta”. Dalam karya ini, Wianta menyusun lingkaran konsentris dengan lapisan warna merah, emas, dan hitam yang saling terhubung. Garis-garis tampak memancar dari titik pusat, menciptakan kesan energi yang terus mengalir keluar. Karya ini menggambarkan titik pusat sebagai simbol sumber energi spiritual, sementara lingkaran-lingkaran di sekelilingnya merepresentasikan fase-fase perjalanan hidup manusia. Karya ini mengajak pengunjung untuk kembali pada inti dirinya, menemukan keseimbangan di tengah kompleksitas dunia modern.
Karya lainnya yang tampak menonjol diberijudul “Pangider Bhuwana”. Terinspirasi dari konsep sembilan penjuru mata angin dalam kosmologi Bali, komposisi ini menghadirkan pembagian ruang yang tegas namun tetap harmonis. Warna-warna kontras ditempatkan secara presisi dalam struktur geometris yang menyerupai peta kosmik. Dalam karya ini, Wianta menegaskan bahwa manusia tidak pernah berdiri sendiri, tapi selalu berkaitan dengan keterhubungan manusia dengan arah, ruang, dan dimensi spiritual.
