Navaswara.com – Pemerintah mempercepat penguatan diplomasi budaya Indonesia di Eropa. Menteri Kebudayaan Fadli Zon menempatkan Rumah Budaya Indonesia di Berlin sebagai simpul baru pertukaran seni dan gagasan. Isu ini mengemuka dalam pertemuan bilateral bersama Duta Besar Jerman untuk Indonesia, Ralf Beste, di Jakarta pada 24 Februari 2026.
Pertemuan tersebut meninjau ulang kerja sama kebudayaan Indonesia–Jerman yang telah berjalan sejak 1988. Kerangka Agreement on Cultural Cooperation dinilai perlu diperbarui agar selaras dengan dinamika global dan prioritas mutakhir kedua negara. “Mungkin ini saatnya untuk kita perbaharui kerja sama tersebut,” ujar Fadli Zon.
Penguatan platform pusat kebudayaan menjadi salah satu agenda utama. Fadli menegaskan kehadiran Rumah Budaya Indonesia di KBRI Berlin diarahkan untuk memperluas hubungan antar masyarakat. “Kami ingin memperkuat hubungan antar masyarakat dengan kehadiran Rumah Budaya Indonesia di Jerman. Sekarang kita punya Rumah Budaya Indonesia di KBRI Berlin,” katanya.
Rumah budaya itu diproyeksikan menjadi ruang temu bagi promosi seni pertunjukan, musik, tari, film, buku, hingga kuliner Indonesia. Pemerintah berharap kolaborasi melibatkan komunitas kreatif, institusi seni, dan mitra lokal Jerman agar interaksi berlanjut pada program yang konsisten.
Selain agenda promosi, pembahasan juga menyentuh isu repatriasi objek bersejarah. Pemerintah Indonesia mendorong dialog terkait 13 fosil manusia purba Sangiran yang saat ini berada di Museum Senckenberg. Topik ini dipandang penting sebagai bagian dari tanggung jawab sejarah dan kerja sama permuseuman.
Kerja sama perfilman ikut masuk dalam daftar pembicaraan. Salah satu rencana yang dijajaki adalah co-production film tentang Georg Eberhard Rumphius, naturalis Jerman yang lama menetap di Ambon. Inisiatif ini membuka peluang dialog lintas sejarah sekaligus memperluas distribusi cerita Indonesia di panggung internasional.
Ralf Beste menyambut baik usulan pembaruan kerja sama tersebut. Ia menilai bidang sejarah, film, buku, serta diskusi repatriasi memerlukan kerangka baru yang lebih adaptif. Kerja sama permuseuman juga disebutnya sebagai area yang potensial untuk dikembangkan bersama.
Pertemuan ini turut menjadi bagian dari persiapan kunjungan kenegaraan Presiden Jerman, Frank-Walter Steinmeier, ke Indonesia pada 9 Maret 2026, serta rencana dialog dengan perwakilan Frankfurt Book Fair. Momentum ini dimanfaatkan untuk memperluas jejaring budaya dan memperbarui komitmen kolaborasi kedua negara.
Apa artinya bagi masyarakat? Penguatan Rumah Budaya Indonesia di Berlin membuka ruang lebih luas bagi seniman, penulis, sineas, hingga pelaku kuliner untuk tampil di panggung internasional. Publik juga berpeluang menikmati hasil kolaborasi film, pameran, dan program literasi yang lahir dari kerja sama ini. Upaya repatriasi fosil Sangiran turut menyentuh kepentingan publik karena menyangkut akses terhadap warisan sejarah bangsa.
