Navaswara.com – Jauh sebelum ilmu pengetahuan modern memenangkan Hadiah Nobel atas penemuan mekanisme autophagy, umat Muslim telah menjalankannya lewat tradisi puasa Ramadan sebagai jalan penyucian jiwa dan raga. Kini, sains membuktikan bahwa saat perut kosong dalam durasi tertentu, sel-sel tubuh mulai melakukan “kanibalisme positif”. Memakan bagian-bagian sel yang rusak untuk diubah menjadi bahan baku sel yang sehat.
Singkatnya, puasa Ramadan adalah cara tahunan bagi tubuh kita untuk melakukan pembersihan sampah biologis yang selama ini menghambat performa kesehatan kita.
Tubuh punya sistem daur ulang internal yang bekerja diam-diam setiap hari, membuang komponen sel yang rusak, mendaur ulangnya menjadi bahan baku baru, lalu memperbarui dirinya sendiri. Itulah autophagy, sebuah mekanisme biologis yang kini menjadi salah satu topik paling menarik di dunia ilmu kesehatan modern.
Istilah autophagy berasal dari bahasa Yunani, yakni autos (diri sendiri) dan phagein (memakan). Secara harfiah, autophagy berarti “memakan diri sendiri.” Tapi jangan salah paham proses ini bukan sesuatu yang merusak. Justru sebaliknya, ini adalah mekanisme perlindungan sel yang sangat canggih.

Cara Kerja Autophagy
Dalam kondisi normal, sel-sel tubuh kita terus-menerus menghasilkan protein dan organel (komponen sel). Seiring waktu, sebagian dari mereka rusak, menua, atau tidak berfungsi optimal. Di sinilah autophagy masuk.
Sel akan membungkus “sampah biologis” tersebut dalam sebuah kantong khusus bernama autophagosome. Kantong ini kemudian bergabung dengan lysosome, semacam “pabrik daur ulang” milik sel yang mengandung enzim pemecah. Komponen yang rusak tadi dipecah menjadi molekul sederhana seperti asam amino dan asam lemak, lalu didaur ulang untuk membangun komponen baru yang sehat.
“Autophagy adalah cara sel membersihkan sampah dan memperbarui dirinya. Tanpa proses ini, sel akan dipenuhi protein yang rusak dan tidak berfungsi, yang pada akhirnya bisa memicu berbagai penyakit,” jelas Profesor Yoshinori Ohsumi, ilmuwan Jepang yang meraih Nobel Fisiologi atau Kedokteran 2016 atas penemuannya tentang mekanisme autophagy.

Kapan Autophagy Aktif?
Autophagy berjalan terus meski dalam kadar rendah setiap saat. Namun ada kondisi tertentu yang bisa mengaktifkannya secara lebih intens, antara lain puasa atau pembatasan kalori, olahraga, serta tidur yang cukup dan berkualitas.
Saat seseorang berpuasa, misalnya, kadar gula dan insulin dalam darah turun. Ini memberi sinyal pada sel untuk beralih ke “mode hemat energi” sekaligus mengaktifkan autophagy lebih agresif, mendaur ulang komponen sel yang ada sebagai sumber energi alternatif.
Autophagy yang berjalan baik dikaitkan dengan berbagai manfaat kesehatan jangka panjang. Penelitian menunjukkan bahwa proses ini berperan dalam memperlambat penuaan sel, mengurangi peradangan kronis, serta membantu tubuh melawan infeksi dengan membersihkan patogen yang masuk ke dalam sel.

Dengan rutin ‘membersihkan’ protein beracun yang menumpuk, autophagy bertindak sebagai perisai alami yang menjaga fungsi kognitif otak tetap tajam seiring bertambahnya usia. Hal ini krusial dalam meminimalisasi risiko penyakit degeneratif seperti Alzheimer yang dipicu oleh penumpukan ‘sampah’ protein di jaringan saraf.
Belakangan, autophagy kerap disebut-sebut dalam konteks tren gaya hidup seperti intermittent fasting atau diet tertentu. Meski ada dasar ilmiahnya, para ahli mengingatkan agar tidak berlebihan dalam menginterpretasikan manfaatnya pada manusia, sebagian besar penelitian masih dilakukan pada hewan atau sel di laboratorium.
Satu hal yang pasti, menjaga gaya hidup sehat, seperti dengan tidur cukup, berolahraga teratur, dan tidak makan berlebihan adalah cara paling realistis untuk mendukung autophagy bekerja optimal di dalam tubuh Anda.
