Navaswara.com – Riset terbaru dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkap sejumlah faktor kunci yang secara signifikan meningkatkan risiko bayi tidak mendapatkan ASI eksklusif selama enam bulan pertama kehidupan.
Secara statistik, ibu dengan pendidikan SMP atau lebih rendah memiliki kemungkinan 8,84 kali lebih besar untuk tidak memberikan ASI eksklusif dibandingkan ibu berpendidikan perguruan tinggi. Sementara itu, anak dari ibu bekerja berisiko 6,45 kali lebih tinggi tidak menerima ASI eksklusif dibandingkan anak dari ibu yang tidak bekerja.
Penelitian yang dilakukan Yuly Astuti dari Pusat Riset Kependudukan BRIN ini menggunakan pendekatan mixed-methods dengan melibatkan 706 ibu yang memiliki anak usia 6–59 bulan di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah.
“Hasil analisis menunjukkan 58,1% anak dalam sampel tidak menerima ASI eksklusif selama enam bulan pertama kehidupan. Angka yang mencerminkan masih kuatnya hambatan struktural dan sosial dalam praktik menyusui,” ujar Yuly.
Praktik Prelakteal dan Pengaruh Budaya
Salah satu temuan paling krusial adalah praktik prelakteal, pemberian madu atau gula pada bayi baru lahir, yang meningkatkan risiko tidak diberikannya ASI eksklusif hingga 5,67 kali.
Sebanyak 36,1% responden mengaku melakukan praktik tersebut. Alasan yang muncul bukan kebiasaan semata, melainkan keyakinan budaya bahwa rasa manis akan membawa kebaikan bagi kehidupan anak di masa depan.
“Data kami menunjukkan bahwa praktik prelakteal bukan sekadar kebiasaan, tetapi memiliki dampak signifikan terhadap kegagalan ASI eksklusif. Ini menjadi titik intervensi yang sangat strategis,” jelasnya.
Dimensi Gender dan Ekonomi
Riset ini juga menemukan anak laki-laki lebih berisiko tidak menerima ASI eksklusif dibandingkan anak perempuan. Anak dari rumah tangga berpendapatan rendah pun memiliki peluang lebih besar mengalami praktik non-ASI eksklusif.
Menurut Yuly, konstruksi gender turut berperan. Di lokasi penelitian, terdapat pandangan bahwa anak laki-laki sebagai penerus keluarga harus tumbuh lebih besar dan kuat, sehingga ASI saja dianggap tidak cukup.
“Cara pandang bahwa anak laki-laki penerus keluarga harus sehat dan tidak cukup hanya diberikan ASI, membuat sebagian ibu memberi makanan tambahan sebelum waktunya,” paparnya.
Ia menambahkan, keputusan menyusui kerap berada dalam ruang negosiasi keluarga. Persepsi bahwa bayi yang lebih besar dianggap lebih sehat membuat ibu terdorong memberi susu formula atau makanan tambahan lebih awal.
Butuh Dukungan Struktural
Yuly menegaskan, persoalan ASI eksklusif tidak bisa dibebankan pada ibu semata. Pendidikan, pekerjaan, norma budaya, hingga kondisi ekonomi membentuk ekosistem yang memengaruhi keputusan menyusui.
“Intervensi harus menyasar tidak hanya ibu, tetapi juga keluarga dan komunitas, sekaligus memperkuat dukungan sistem seperti kebijakan tempat kerja ramah ibu menyusui. Tanpa dukungan struktural, sulit mengharapkan perubahan perilaku yang berkelanjutan,” tegasnya.
Dengan mengintegrasikan analisis kuantitatif dan kualitatif, riset ini memberikan gambaran komprehensif mengenai determinan sosial budaya praktik ASI eksklusif. Temuan tersebut diharapkan menjadi landasan perumusan strategi komunikasi perubahan perilaku yang lebih efektif dan kontekstual, sekaligus mendukung percepatan penurunan stunting berbasis data ilmiah.

