Navaswara.com – Di sudut Desa Rantau Panjang, Kabupaten Merangin, Jambi, sebuah rumah tuo berdiri kokoh. Usianya diperkirakan telah mencapai 700 tahun. Bangunan kayu itu tak sebatas peninggalan arsitektur lama, melainkan juga saksi hidup denyut kebudayaan masyarakat setempat.
Di rumah tuo inilah tradisi Ngiling Bumbu tumbuh dan diwariskan lintas generasi. Sebuah ritual gotong royong yang lebih dari sekadar aktivitas memasak. Ngiling bumbu adalah ruang kebersamaan, simbol solidaritas, bahkan pernah menjadi ajang pertemuan hati bagi para muda-mudi desa.
‘Ba Usik Sirih Bergurau Pinang’, Saat Pantun Menjadi Jembatan Cinta
Ngiling bumbu biasanya digelar dalam momen-momen penting: persiapan turun ke ladang, panen raya, hingga kenduri pernikahan. Tradisi ini merupakan bagian dari beselang, praktik gotong royong yang mempertemukan warga dalam kerja dan perayaan bersama.
Dahulu, suasana Ngiling Bumbu selalu riuh. Para gadis duduk melingkar menumbuk rempah, seperti kunyit, jahe, lengkuas di atas lesung kayu. Aroma santan dari kelapa yang diparut manual menguar, bercampur tawa dan gurauan.
Namun, ada satu bagian yang paling ditunggu: ba usik sirih bergurau pinang. Di sinilah pemuda dan pemudi saling berbalas pantun, jenaka, puitis, sekaligus penuh makna.
“Batang salih di tepi rimbo, rebah sebatang ke dalam payo. Kalun bulih abong betanyo, kak baju abang siapo namo?” rayu seorang pemuda.
Balasan pun datang tanpa kalah lincah, “Eee, Bong eh… Dari mano hendak ke mano, dari Jepun ke Bando Cino. Dado salah abong betanyo, adik nak malang Miah namonyo.”
Pantun menjadi pintu perkenalan. Setelahnya, para pemuda menyerahkan belut hasil tangkapan mereka untuk dimasak bersama menjadi Gulai Belut Daun Pakis, hidangan khas yang tak terpisahkan dari tradisi ini.
Bagi warga Rantau Panjang, belut bukan sekadar lauk. Ia adalah simbol kegigihan. Menangkap belut di sawah menjadi ujian keterampilan dan ketangguhan bagi laki-laki desa.
Memasak gulai belut memakan waktu hingga satu setengah jam di atas tungku kayu. Hasilnya adalah hidangan dengan daging belut yang lembut, gurih santan, dan rempah yang meresap sempurna. Disantap bersama nasi padi ladang yang baru dipanen, gulai ini merepresentasikan hubungan harmonis manusia dan alam.
Tradisi yang Kian Pudar
Namun, romantisme Ngiling Bumbu kini mulai memudar. Perubahan zaman menggeser ruang-ruang pertemuan. Ajang “cari jodoh” yang dulu berlangsung di sekitar lesung kini berpindah ke layar ponsel.
“Sekarang ngiling bumbu tinggal bagian dari beselang untuk masak, itu pun ibu-ibu. Kalau muda-mudi, perkenalan sekarang di HP bae,” kata Ramuini (19), pelajar SMAN 2 Merangin dilansir dari Indonesia Kaya.
Di luar perubahan sosial, ada ancaman yang lebih serius: Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI). Aktivitas tambang ilegal mempersempit aliran Sungai Tabir dan merusak ekosistem sawah. Dampaknya terasa langsung, sawah mengering, panen gagal, dan belut makin sulit ditemukan.
“Kalau sawah tidak dikerjakan lagi, tradisi mancing belut pun hilang. Makanan khas kami juga bisa lenyap,” ujar Sholihin, pemuda setempat.
Menjaga yang Tersisa
Ngiling Bumbu adalah wujud kearifan lokal yang menghubungkan masa lalu dan masa depan. Tradisi ini bukan ritual semata, tetapi penanda identitas dan relasi sosial masyarakat.
Bagi warga Rantau Panjang, mempertahankan Ngiling Bumbu berarti menjaga jati diri. Di tengah kepungan mesin tambang dan derasnya arus modernisasi, mereka berharap suara lesung menumbuk bumbu dan aroma gulai belut tetap hidup, bukan hanya dalam ingatan, tetapi dalam kehidupan sehari-hari.
Foto: Indonesia Kaya

