Banyak yang Mengejar Sukses, Sedikit yang Ingat Doa Orang Tuanya

Navaswara.com – Pagi kembali datang seperti biasa.
Langit tak selalu cerah, tapi langkah tetap dipaksa bergerak. Kita berangkat dengan satu tujuan yang sama: mengejar hidup yang lebih baik.

Target menunggu.
Tanggung jawab menumpuk.
Mimpi harus dijaga agar tidak runtuh di tengah jalan.

Di usia dewasa, hidup memang berubah menjadi perlombaan. Siapa paling cepat, siapa paling kuat, siapa paling terlihat berhasil. Kita sibuk membuktikan diri pada dunia hingga sering lupa pada satu kekuatan paling sunyi yang diam-diam menjaga langkah kita tetap utuh: doa orang tua.

Mereka mungkin tak tahu apa jabatan kita hari ini.
Tak paham istilah pekerjaan yang kita banggakan.
Tak mengerti seberapa rumit tekanan yang kita simpan setiap malam.

Namun mereka tahu satu hal yang paling penting:
bagaimana menyebut nama anaknya dalam doa, agar hidupnya tidak celaka meski jalannya berat.

Di saat kita lelah dan hampir menyerah,
di saat rencana tak berjalan,
di saat dunia terasa tak adil,

ada doa yang terus bekerja tanpa kita sadari.

Doa yang tak pernah menuntut hasil.
Tak meminta balasan.
Tak ingin disebut atau diingat.

Ia mengalir diam-diam, seperti penjaga yang tak terlihat.

Banyak orang mencapai sukses karena kecerdasan.
Sebagian karena keberanian.
Namun tak sedikit yang sampai karena keberkahan.

Dan keberkahan sering lahir dari hati orang tua yang ikhlas.

Kita kerap mengukur sukses dari angka,
dari pengakuan,
dari sorak dunia.

Padahal bisa jadi, ukuran sukses yang paling jujur justru sederhana:
apakah orang tua kita masih mendoakan kita dengan tenang?

Sebab ada orang yang berhasil besar, namun hidupnya sempit.
Ada pula yang langkahnya sederhana, tapi hatinya lapang.

Mungkin bedanya bukan pada seberapa keras usaha,
melainkan pada seberapa dalam ridho.

Ada orang yang naik cepat, tapi jiwanya tertinggal.
Ada pula yang berjalan pelan, namun hidupnya terasa utuh.

Maka sebelum berlari lebih jauh,
sebelum menambah ambisi baru,
sebelum menuntut dunia lebih banyak,

berhentilah sejenak.

Telepon orang tua.
Tanya kabarnya dengan sungguh-sungguh.
Minta maaf tanpa alasan.
Minta doa tanpa gengsi.

Karena dunia bisa memberi tepuk tangan,
namun hanya doa orang tua
yang mampu menjaga kita tetap selamat

bukan hanya berhasil.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *