Navaswara.com – Bayangkan jika penyakit yang bisa dicegah dan diobati masih terus merenggut nyawa ribuan orang setiap tahun. Itulah kenyataan pahit Tuberkulosis (TBC), penyakit menular yang hingga kini masih menjadi salah satu penyebab kematian terbesar di Indonesia. Namun, pemerintah menegaskan: sudah saatnya TBC dihapuskan. Targetnya jelas—eliminasi pada tahun 2030.
Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Pratikno, dalam rapat tingkat menteri di ruang rapat lantai 14 Kantor Kemenko PMK, pada Kamis (25/9/2025) menegaskan bahwa perjuangan ini bukan hanya tugas Kementerian Kesehatan, melainkan tanggung jawab kita semua. “Perpres sudah menegaskan, tahun 2030 angka TBC harus turun drastis. Ini mandat tegas yang harus kita jalankan bersama,” ujarnya penuh keyakinan.
Menghadapi TBC tidak bisa setengah hati. Pemerintah pusat, daerah, perguruan tinggi, tokoh agama, hingga masyarakat desa, semuanya harus terlibat. Dari penyediaan layanan kesehatan yang bermutu, perbaikan hunian agar sehat, edukasi sejak sekolah, sampai dukungan psikologis bagi pasien agar mereka tidak merasa sendiri.
Lebih dari itu, stigma sosial sering kali menjadi penghalang terbesar. Banyak orang enggan memeriksakan diri karena takut dicap dan dijauhi. Padahal, semakin cepat TBC terdeteksi, semakin besar peluang untuk sembuh. “Kita harus melindungi pasien dari diskriminasi. Jangan sampai orang takut dites hanya karena takut dikucilkan,” tegas Pratikno.
Dalam lima tahun ke depan, pemerintah menargetkan penurunan kasus TBC hingga 50 persen. Langkah besar ini akan ditempuh melalui penguatan tim penanggulangan di daerah, penyediaan dana khusus, serta kerja sama lintas kementerian. Bahkan, tokoh agama diharapkan bisa ikut menyuarakan pesan anti-stigma agar masyarakat semakin berani memeriksakan diri.
Rapat koordinasi yang digelar Kemenko PMK juga dihadiri sejumlah menteri penting, mulai dari Mendagri Tito Karnavian, Menag Nasaruddin Umar, hingga Dirut BPJS Kesehatan Ali Ghufron Mukti. Kehadiran mereka menandakan bahwa perang melawan TBC adalah prioritas nasional, bukan sekadar isu kesehatan, tetapi juga isu kemanusiaan.
Indonesia pernah membuktikan bahwa dengan gotong royong, bangsa ini mampu melewati krisis besar—dari bencana alam, pandemi, hingga pemulihan ekonomi. Semangat yang sama kini dibutuhkan untuk mengalahkan TBC. Karena eliminasi TBC bukan sekadar soal angka, tetapi soal menyelamatkan nyawa, menghapus stigma, dan memastikan setiap orang bisa hidup sehat dan bermartabat.
2030 tinggal lima tahun lagi. Apabila semua bergerak bersama, dari ruang rapat pemerintah hingga ruang kelas, dari rumah ibadah hingga rumah tangga sederhana, Indonesia bisa mewujudkan mimpi besar: bebas dari TBC. Dan ketika itu tercapai, kita bisa berkata dengan bangga bahwa bangsa ini telah menang melawan salah satu penyakit tertua di dunia—dengan kekuatan kolaborasi dan solidaritas kemanusiaan.
