Melestarikan Kue Tradisional, Anne Buat Jajanan Pasar Tetap Kekinian Lewat Seroja Bake

Navaswara.com – Di tengah gempuran pastry ala Prancis dan kue-kue estetik dari Korea maupun Jepang, jajanan pasar khas Indonesia sering dianggap kuno atau terlupakan. Bagi Anne, founder Seroja Bake, kondisi itu justru menjadi tantangan yang memacu kreativitasnya. Perempuan muda ini memilih berbisnis sambil melestarikan budaya melalui inovasi yang relevan bagi generasi sekarang.

Perjalanan Seroja Bake dimulai pada 2020. Anne menyadari kenyataan bahwa generasi muda lebih mengenal croissant atau madeleine dibandingkan roti gambang, puteri ayu, atau kue nagasari. “Challenge terbesar kami adalah generasi sekarang tidak lagi terekspos dengan resep kue zaman dulu yang membawa identitas budaya Indonesia. Kita hidup di era multikulturasi di mana lidah lebih familiar dengan rasa luar negeri,” ujar Anne dalam diskusi dan peluncuran kampanye Public Relations bertajuk #KembaliKeDapur di Universitas Bakrie, Sabtu (20/12). Di hadapan mahasiswa, Anne menekankan pentingnya memperkenalkan kembali kue tradisi kepada generasi muda.

Anne menjelaskan bahwa salah satu cara mereka mengajak generasi muda dekat dengan jajanan pasar adalah lewat “pintu masuk” yang sudah familiar. “Kita membawa menu yang teman-teman biasanya sudah kenal duluan, misalnya terinspirasi dari tiramisu dan dinamakan Sagumisu. Untuk finger biscuit-nya, kita pakai kue sagu dari sagu lokal. Dengan begitu, kami ingin menyampaikan bahwa makanan lokal Indonesia itu tidak terasa berat dan tetap bisa dinikmati dengan cara yang modern,” ujarnya.

Selain melestarikan jajanan pasar seperti roti gambang, puteri ayu, dan kue nagasari, Anne juga menciptakan menu kue modern dengan bahan lokal. Ia memanfaatkan tepung singkong, tepung beras, dan sagu untuk membuat kue yang tetap kreatif, menarik, dan ramah bagi lidah generasi muda. “Kami ingin menunjukkan bahwa bahan lokal tidak hanya untuk resep tradisional, tapi bisa dikreasikan menjadi sesuatu yang modern dan kekinian,” tambahnya.

Dok. Serojabake

Tantangan harga sering muncul karena jajanan tradisional masih dianggap harus murah, sementara pastry ala luar negeri bisa dibanderol mahal. Anne menegaskan, kualitas dan edukasi konsumen adalah kunci. Seroja Bake tidak sekadar menjual kue, tapi juga menghadirkan cerita di balik setiap bahan, mulai dari santan hingga jenis tepung yang digunakan. “Kami ingin orang tidak hanya makan, tapi juga tahu cerita di baliknya sehingga lebih menyayangi kuliner sendiri,” jelasnya.

Bagi Anne, melestarikan jajanan pasar berarti menghidupkan kembali kekayaan budaya Indonesia. Ia percaya, perempuan muda bisa membawa tradisi turun-temurun ke masa kini dengan cara yang segar, menarik, dan membanggakan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *