Navaswara.com – Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) terus membenahi sistem transportasi di wilayahnya. Salah satu langkah terbaru yang dilakukan adalah mengganti becak motor (bentor) dengan becak listrik sebagai alternatif transportasi yang lebih ramah lingkungan.
Upaya tersebut ditandai dengan diterimanya bantuan 50 unit becak listrik senilai Rp 1 miliar dari PT Kereta Api Indonesia (Persero). Bantuan itu diserahkan kepada Pemda DIY di Kompleks Kepatihan, beberapa waktu lalu.
Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X turut menjajal langsung salah satu unit becak listrik tersebut bersama Direktur Utama PT KAI Bobby Rasyidin. Sultan menegaskan, program ini menjadi bagian dari penertiban bentor yang selama ini dinilai tidak sesuai dengan ketentuan.
Sultan menyampaikan, warga yang menerima becak listrik diwajibkan menyerahkan bentor miliknya kepada Pemda DIY untuk kemudian dimusnahkan.
“Skemanya, bentor milik warga diserahkan pada kami dan kami musnahkan. Harapan saya, ini bisa mengurangi populasi bentor dan beban di jalan yang makin padat,” ujar Sultan.
Menurut Sultan, penggunaan becak listrik diharapkan dapat menekan emisi karbon, terutama di kawasan wisata. Selain itu, kehadiran becak listrik juga diproyeksikan menjadi wajah baru transportasi pariwisata Yogyakarta yang lebih tertib dan modern, tanpa meninggalkan identitas becak sebagai moda tradisional.
Meski demikian, Sultan memberikan catatan penting terkait keberlanjutan program tersebut. Ia meminta agar aspek perawatan menjadi perhatian serius agar becak listrik tidak mangkrak ketika mengalami kendala teknis.
“Jangan sampai begitu ada problem teknis, akhirnya mangkrak. Harus ada kemudahan untuk bengkel atau tempat perbaikan,” tegasnya.
Sementara itu, Direktur Utama PT KAI Bobby Rasyidin menjelaskan bahwa 50 unit becak listrik tersebut merupakan hasil inovasi yang dikembangkan melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) perusahaan.
“Kita menggerakkannya dengan tenaga baterai sehingga mampu menekan emisi karbon dan polusi secara signifikan,” kata Bobby.
Ia berharap Yogyakarta dapat menjadi percontohan penggunaan transportasi wisata ramah lingkungan di Indonesia, sekaligus memberikan kenyamanan lebih bagi pengemudi dan penumpang.
Respons positif datang dari para pengayuh becak. Dilansir dari laman Pemda DIY, Mamang, yang telah 15 tahun bekerja sebagai pengayuh becak di Yogyakarta, mengaku merasakan perbedaan signifikan saat mencoba becak listrik.
“Jujur lebih enak ini. Rasanya lebih ringan bahkan daripada becak gowes biasa, praktis juga,” ujarnya.
Mamang juga menilai fitur modern seperti lampu sein dan indikator baterai memudahkan pengoperasian becak di jalan raya. Menurutnya, peralihan ke becak listrik merupakan langkah yang relevan dengan perkembangan zaman.
“Zamannya sudah modern, jadi memang sudah saatnya beralih,” pungkasnya.
Foto: Humas Pemda DIY
