Navaswara.com — Inklusiland 2025 yang digelar Yayasan Inklusi Pelita Bangsa (YIPB) di ICE BSD, Tangerang, Minggu (7/12) menjadi ajang apresiasi bagi empat sosok yang selama ini konsisten memperjuangkan ruang inklusi di Indonesia.
Mereka adalah Prof. Dr. Ali Muktiyanto (Rektor Universitas Terbuka), Dr. Fauzi (Dosen Tuli dan Fotografer), Rina Jayani (Pendiri Aluna Montessori), dan penyanyi muda yang mendunia, Putri Ariani.
Keempatnya menerima Anugerah Inklusi Pelita Bangsa, penghargaan bagi figur yang mendorong inklusi bukan hanya sebagai wacana, tetapi praktik nyata.
Rektor Universitas Terbuka, Prof. Dr. Ali Muktiyanto mengungkapkan, penghargaan ini menjadi penegasan bahwa inklusi adalah kerja bersama.
“Secara pribadi maupun institusi, saya merasa bangga atas anugerah yang diberikan,” kata Prof. Ali.
Ia menjelaskan bahwa UT sejak awal mengusung open, flexible dan distance learning system, pendidikan yang terbuka bagi siapa saja, di mana saja. Pada aspek open to people, UT menerima mahasiswa tanpa melihat latar belakang ekonomi, wilayah, hingga kondisi disabilitas.
Dari 1.169 mahasiswa yang aktif, 126 di antaranya menerima beasiswa penuh. “Ini bukti bahwa kebijakan inklusif itu bisa diterapkan,” ujarnya.
Prof. Ali lalu membagikan pengalaman pribadinya sebagai penyandang disabilitas yang sejak kecil diperlakukan setara oleh lingkungannya.
“Saya diperlakukan apa adanya, tanpa rasa kasihan berlebihan. Bahkan, ketika saya terpilih menjadi rektor, itu bukan karena belas kasihan, tapi karena prestasi,” tuturnya.
Menurutnya, tantangan terbesar saat ini adalah mengubah cara pandang sebagian masyarakat yang masih melihat penyandang disabilitas sebagai kelompok yang “berbeda”.
“Mainstream kita harusnya sederhana, semua orang punya kesempatan yang sama untuk berkembang sesuai potensinya.”
Sementara Dr. Fauzi, dosen Tuli, fotografer, sekaligus peraih Rekor MURI sebagai Doktor Seni Fotografi cum laude penyandang disabilitas pertama, menuturkan, “Hari ini bukan tentang saya, tapi tentang dedikasi Bapak/Ibu yang telah memberikan ruang bagi kami,” kata Fauzi.
Ia menegaskan bahwa inklusi bukan hanya soal fasilitas, tetapi pemahaman. Setiap orang punya cara komunikasi yang berbeda, dan hal itu perlu diterima.
Sebagai Presiden Universitas Disabilitas Indonesia (UDADI), ia melihat bahwa perjalanan inklusi masih panjang. Banyak yang belum memahami bahwa disabilitas bukan hambatan untuk berkarya.
“Kuncinya kolaborasi,” tegasnya. “Yang penting adalah kesadaran bahwa disabilitas bukan penghalang. Pikiran positif itu penting supaya kita terus bisa berkarya.”
Fauzi menutup dengan keyakinan bahwa visual adalah bahasanya. “Suara tidak harus terdengar. Ia bisa hadir lewat karya visual.”
Cahaya Manthovani: Penghargaan Ini Akan Berlanjut
Ketua Harian YIPB, Cahaya Manthovani, menjelaskan bahwa Anugerah Inklusi Pelita Bangsa diberikan kepada figur yang benar-benar memberi dampak.
“Kami ingin mengapresiasi orang-orang yang tepat untuk menerima penghargaan ini,” kata Cahaya.
Ia menyebut bahwa penghargaan serupa akan terus dilakukan pada tahun mendatang. “Kami akan terus mencari tokoh-tokoh yang layak mendapat Anugerah Positif Pelita Bangsa.”
Perjuangan yang Terus Hidup
Empat sosok ini datang dari dunia yang berbeda, akademik, seni, musik, dan pendidikan. Namun pesan yang mereka bawa satu, inklusi harus multisektoral dan tidak boleh berhenti sebagai slogan.
Lewat peran masing-masing, mereka menunjukkan bahwa perubahan bisa dimulai dari hal yang sederhana, yakni memberi kesempatan, memahami keberagaman, dan menghadirkan ruang yang aman untuk semua.
YIPB menyebut mereka sebagai “pelita bangsa”, bukan karena gelar, tetapi karena konsistensi mereka menyalakan cahaya bagi banyak orang.
