Dokter Ungkap Bahaya Mi Instan Jangka Panjang, Risiko TBHQ, Mikroplastik, hingga Defisiensi Nutrisi

Navaswara.com – Mi instan, kerap menjadi pemadam kelaparan di malam hari atau menu sarapan simpel. Gurihnya yang adiktif dan proses masaknya yang tak sampai lima menit menjadikannya comfort food wajib bagi mahasiswa, deadliner kantor, dan siapa pun yang butuh asupan cepat tanpa repot.

Tapi, kenyamanan yang instan itu datang dengan harga yang harus dibayar mahal oleh tubuh.

Seorang dokter ortopedi asal Mumbai, Dr. Manan Vora, membunyikan alarm keras. Lewat video yang viral di Instagram-nya, ia menegaskan, konsumsi mi instan sesekali (seminggu sekali atau kurang) tidak akan merusak kesehatan Anda. Namun, menjadikannya makanan andalan sehari-hari? Itu bencana kesehatan jangka panjang.

“Makan mi instan sekali-sekali tidak akan merusak kesehatan, tapi kalau mengandalkannya setiap hari, dampaknya akan terasa. Beralihlah ke makanan asli. Lindungi usus, energi, dan kesehatan jangka panjangmu,” ujar Dr. Vora. Ia menggarisbawahi, mi instan bukan instant comfort, tapi instant damage.

Tiga Racun Instan: TBHQ, Plastik, dan Craving

Dr. Vora khawatir risiko mi instan kini makin meningkat, terutama dengan menjamurnya produk pedas ekstrem seperti Buldak ramen yang tengah digandrungi Gen Z. Walau banyak yang sadar mi instan adalah makanan ultra-proses, ia menyoroti tiga “tanda merah” yang membuatnya berbahaya bila dikonsumsi terlalu sering:

  1. TBHQ

TBHQ (Tertiary Butylhydroquinone) adalah pengawet sintetis. Fungsinya? Menjaga minyak dan lemak agar tidak cepat tengik.

Dr. Vora menyebutnya antioksidan buatan yang, jika sering dikonsumsi, dapat memicu stres oksidatif di tubuh, memberikan beban ekstra pada sistem metabolisme kita.

  1. Mikroplastik

Khusus bagi Anda penggemar cup noodles, ada ancaman tersembunyi. Kemasan polistirena (sejenis plastik) yang digunakan berpotensi melepaskan mikroplastik saat Anda menuangkan air panas.

“Begitu kamu menambahkan air panas, mikroplastik bisa keluar dan masuk ke tubuh. Ini meningkatkan peradangan dan mengiritasi usus seiring waktu,” kata Dr. Vora. Paparan mikroplastik telah berulang kali dikaitkan dengan peradangan dan berbagai gangguan kesehatan.

  1. Formulasi Ultra-Proses

Di luar pengawet dan kemasan, mi instan kaya akan pewarna buatan, perisa sintetis, dan MSG.

“Ini formulasi ultra-proses yang membuat rasanya lebih kuat, meningkatkan craving, dan dibuat untuk bertahan lama di rak,” jelas Dr. Vora. Formula ini sengaja dibuat agar Anda ketagihan dan selalu ingin menyantapnya lagi.

Kekhawatiran yang sama juga ditekankan oleh dr. Sungadi Santoso atau dr. Sung, seorang edukator kesehatan asal Surabaya.

Ia mengakui, mi instan yang terdaftar di BPOM sudah melalui uji keamanan. Masalahnya bukan pada pengawet sesekali (seperti natrium benzoat atau tartrazine) yang masih aman dalam batas wajar. Masalah utamanya adalah menjadikannya menu harian, bahkan beberapa kali sehari.

Menurut dr. Sung, mi instan memiliki komposisi gizi yang timpang: tinggi karbohidrat dan lemak, tapi minim protein, vitamin, mineral, dan fitonutrien.

“Jika dijadikan menu harian tanpa tambahan gizi lain, tubuh lama-kelamaan dapat mengalami defisiensi nutrisi, seperti kekurangan zat besi, kalsium, hingga vitamin penting,” jelas dr. Sung dikutip dari YouTube SB30 Health. Dampaknya adalah mudah lelah, sulit konsentrasi, dan rentan sakit.

Dr. Sung juga menyoroti kandungan garam yang sangat tinggi, yang bila dikonsumsi terus-menerus, dapat memicu tekanan darah tinggi dan penyakit degeneratif lainnya.
“Awalnya tubuh bisa beradaptasi, tapi lama-kelamaan pengawet dan pewarna yang semestinya bisa dinetralisir jadi menumpuk. Berat badan naik, risiko obesitas meningkat, dan muncul penyakit degeneratif lainnya,” pungkasnya.

Intinya, silakan nikmati mi instan. Tapi ingat, jangan setiap hari. Tubuh Anda layak mendapatkan makanan asli dan nutrisi yang seimbang.

Foto: Freepik

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *