Navaswara.com – Perubahan di dunia pendidikan datang semakin cepat, terutama sejak teknologi artificial intelligence berkembang tanpa jeda. Di tengah laju tersebut, Rektor Universitas Terbuka Prof. Dr. Ali Muktiyanto menilai bahwa tantangan terbesar bukan lagi soal memahami teknologi, tetapi bagaimana manusia menempatkan diri di dalamnya. Pandangan itu ia sampaikan saat bertemu media dalam Universitas Terbuka Media Day 2025.
Prof. Ali memulai penjelasannya tanpa berputar-putar. Di hadapan wartawan, Rektor Universitas Terbuka yang baru ini menyampaikan bahwa dunia pendidikan sedang berada dalam fase perubahan cepat akibat perkembangan artificial intelligence. “Kita sedang didisrupsi, dan kita tidak mungkin melawan itu semua,” ujarnya dalam acara yang digelar secara hybrid di UTCC dan melalui Zoom.
Ia menggambarkan pergeseran teknologi yang berlangsung begitu cepat, dari AI generasi pertama hingga munculnya Generative AI, lalu berkembang lagi menjadi Agile AI. Menurutnya, kecepatan itu membuat frase “terkejut” menjadi kurang tepat. Disrupsi adalah kata yang lebih pas untuk menggambarkan situasi saat ini. “Kita akan optimumkan teknologi itu untuk membantu belajar kita,” kata Prof. Ali menegaskan.

Dalam pandangannya, iklim pendidikan tinggi menuntut fleksibilitas yang jauh lebih besar dibanding sebelumnya. UT, sebagai perguruan tinggi yang mengusung keterbukaan akses bagi siapa saja, ia nilai harus bergerak lebih cepat agar tetap relevan.
Inklusi pendidikan bagi Prof. Ali Muktiyanto bukan slogan, melainkan prinsip yang menuntut Universitas Terbuka membuka peluang belajar tanpa batas wilayah, usia, maupun latar belakang. Kalimat ini menempatkan inklusi sebagai sikap kerja, bukan sekadar pernyataan, sehingga arah kebijakan UT terasa lebih jelas dan konsisten.
Tema “Kepemimpinan Baru, Arah Baru: Kolaborasi Media dan Universitas Terbuka untuk Kemajuan Pendidikan Tinggi yang Berdampak bagi Indonesia” ia gunakan untuk menegaskan bahwa masa depan pendidikan memerlukan dialog setara antara banyak pihak. Media, menurutnya, memiliki peran penting untuk menjaga keterbukaan dan akuntabilitas ruang akademik.
Prof. Ali juga menyinggung kemampuan yang tidak dapat digantikan mesin. Negosiasi, analytical, dan pengambilan keputusan tetap berada di wilayah manusia. Ia merujuk riset awal 2000-an yang mencatat sejumlah kompetensi sosial dan analitis sebagai kemampuan masa depan, dan kini justru kian mendesak untuk dikuatkan.

Perubahan itu, katanya, menuntut UT membangun cara belajar baru. Pembelajaran yang hanya menekankan aspek kognitif ia anggap tidak lagi cukup. Kampus harus memberi ruang bagi proses sintesis, analisis, dan cara berpikir yang menantang mahasiswa untuk memproses informasi secara lebih intensif. Baginya, ini bukan penyesuaian teknis, melainkan perubahan cara pandang terhadap pendidikan.
“Kita tidak boleh kalah dengan teknologi, kita harus memanfaatkan teknologi,” ucapnya. Ia memberikan analogi sederhana bahwa ketika teknologi tidak digunakan dengan bijak, ia akan berbalik menekan. Namun ketika dikelola dengan tepat, teknologi justru menjadi alat paling patuh yang memperkuat proses belajar.
Pandangan itu menggambarkan arah yang ingin ia bangun di Universitas Terbuka. Dalam pandangan Prof. Ali, adaptasi bukan semata ikut arus, melainkan upaya mengarahkan perubahan agar tetap berpihak pada tujuan pendidikan. Kolaborasi dengan berbagai pihak menjadi bagian penting dari strategi tersebut.
Selaras, Prof Ali juga menegaskan arah besar yang sedang ia bangun. UT menargetkan dapat melayani hingga 2,5 juta mahasiswa di seluruh Indonesia. Target ini bukan sekadar angka, melainkan fondasi dari misi UT untuk memastikan setiap anak Indonesia memiliki kesempatan kuliah tanpa terkendala jarak maupun kondisi ekonomi. Menurutnya, pendidikan tinggi harus hadir di mana pun masyarakat membutuhkan.
