Navaswara.com – Di dunia kerja yang menuntut kesetiaan tanpa batas, sering kali perusahaan lebih dulu melupakanmu sebelum kamu sempat berpikir untuk berhenti. Dari ironi itulah, Park Chan-wook memulai No Other Choice (어쩔수가없다 / Eojjeolsugaeopda), film terbarunya yang kini meraih 100 persen di Rotten Tomatoes dan disambut sebagai salah satu karya paling menggigit dalam kariernya.
Dibintangi Lee Byung-hun (Squid Game) dan Son Ye-jin (Crash Landing on You), film ini mengisahkan You Man-su, seorang karyawan senior industri kertas yang tiba-tiba kehilangan pekerjaannya setelah 25 tahun. Dalam keputusasaan untuk bertahan hidup dan menafkahi keluarga, Man-su mengambil keputusan ekstrem yang perlahan menyeretnya ke sisi gelap dunia kerja.
Film ini diadaptasi dari novel Amerika The Ax karya Donald E. Westlake. Park menulis naskahnya bersama Lee Kyoung-mi, Don McKellar, dan Lee Ja-hye, mengubah kisah thriller itu menjadi satire sosial khas gaya penyutradaraannya yang gelap dan ironis.
Penayangan perdananya di Kompetisi Utama Venice International Film Festival ke-82 pada 29 Agustus lalu disambut dengan standing ovation selama sembilan menit. Setelah itu, No Other Choice berkeliling ke berbagai festival bergengsi, termasuk Toronto, Busan, New York, London, dan Sitges. Lee Byung-hun bahkan menerima TIFF Tribute Award di Toronto berkat aktingnya yang luar biasa.
Pujian datang dari berbagai media internasional. Variety menulis bahwa film ini adalah “karya Park yang paling manusiawi dan lucu dengan cara yang kelam.” Time Out memberi lima bintang dan menyebutnya sebagai “masterpiece sejati Park Chan-wook.” Sementara The Guardian menilai film ini sebagai “film terbaik di kompetisi Venice tahun ini.”

Secara komersial, film ini juga mencetak rekor baru. Hingga 1 November 2025, No Other Choice meraup 22 juta dolar AS secara global, dengan lebih dari 2,7 juta penonton di Korea Selatan. Dalam lima hari pertama penayangan, film ini sudah menembus angka satu juta penonton—rekor tercepat sepanjang karier Park. Bahkan sebelum rilis, film ini telah terjual ke lebih dari 200 negara dan menutup biaya produksi 17 miliar won lewat pra-penjualan internasional.
Dari sisi artistik, No Other Choice tampil memukau dengan sinematografi bernuansa hijau gelap yang menegangkan, transisi visual yang presisi, serta tata suara yang membangun atmosfer getir khas Park. Perpaduan elemen komedi hitam, thriller, dan drama sosial menghasilkan film yang tajam dan reflektif.
Tema besar film ini menyinggung realitas ekonomi dan budaya kerja modern, terutama tekanan terhadap pria paruh baya yang kehilangan identitasnya saat karier direnggut. Kritik terhadap kerakusan korporasi dan absurditas kapitalisme tersaji dalam gaya yang lucu sekaligus tragis. Seperti ditulis salah satu ulasan, film ini “darkly funny tapi juga menyingkap kesedihan menjadi manusia yang mengukur harga diri lewat pekerjaan.”
Kini No Other Choice resmi dipilih mewakili Korea Selatan untuk kategori Best International Feature Film di Oscar 2026. Harian The Dong-A Ilbo menyebut film ini sebagai “penanda penting dalam sinema Korea modern yang menghidupkan kembali gairah perfilman nasional di panggung dunia.”
Dengan kisah yang menggigit, sinematografi yang memukau, dan akting yang intens, No Other Choice membuktikan bahwa Park Chan-wook masih berada di puncak kreativitasnya. Film ini bukan hanya hiburan, tetapi juga cermin getir dunia kerja yang penuh tekanan dan absurditas moral.
